IBM Ungkap Komputasi Kuantum Segera Hadir, Dunia Usaha Belum Siap
- Rita Puspita Sari
- •
- 3 hari yang lalu
Ilustrasi Aplikasi Quantum Computing
Komputasi kuantum diprediksi menjadi salah satu teknologi paling berpengaruh dalam dekade mendatang. Namun ironisnya, sebagian besar perusahaan global dinilai belum siap menghadapi perubahan besar ini. Hal tersebut terungkap dalam studi terbaru IBM yang menyebutkan bahwa meskipun dampak komputasi kuantum sudah di depan mata, kesiapan strategi dunia usaha masih jauh dari memadai.
IBM memperkirakan komputasi kuantum akan mulai membentuk ulang berbagai industri pada 2030. Teknologi ini diyakini mampu memecahkan masalah yang terlalu rumit bagi komputer konvensional, mulai dari optimasi skala besar, simulasi kompleks, hingga analisis probabilistik tingkat lanjut. Sayangnya, kesiapan perusahaan belum sejalan dengan potensi besar tersebut.
Peringatan ini menjadi inti laporan The Enterprise in 2030, sebuah riset yang dilakukan IBM Institute for Business Value. Studi tersebut melibatkan lebih dari 2.000 eksekutif senior dari 33 wilayah dan 23 industri, yang disurvei pada akhir 2025. Temuan utamanya cukup jelas: komputasi kuantum bukan lagi soal “jika”, melainkan “kapan”. Namun, strategi perusahaan masih tertinggal dari realitas tersebut.
Menurut laporan itu, sebanyak 59% eksekutif percaya bahwa Artificial Intelligence (AI) yang didukung komputasi kuantum akan mentransformasi industri mereka sebelum akhir dekade ini. Namun, hanya 27% yang memperkirakan organisasi mereka akan benar-benar menggunakan komputasi kuantum dalam bentuk apa pun pada periode yang sama.
IBM menilai kesenjangan ini sebagai kesalahan perhitungan strategis, bukan semata karena teknologi kuantum belum matang. Fokus berlebihan pada AI, tanpa mempertimbangkan evolusi komputasi secara menyeluruh, dinilai berisiko membuat perusahaan kehilangan momentum dalam menghadapi perubahan besar berikutnya.
“Komputasi kuantum tidak akan berdiri sendiri,” kata Dr. Thomas Eckl, pakar utama di Bosch, sebagaimana dikutip dalam laporan tersebut. “Komputasi klasik, AI, dan komputasi kuantum harus bekerja bersama dalam alur kerja yang saling terhubung.”
Dalam laporan ini, IBM menegaskan bahwa komputasi kuantum bukanlah pengganti komputer yang ada saat ini. Sebaliknya, teknologi ini berperan sebagai pelengkap yang dirancang untuk menangani jenis masalah tertentu yang sulit dipecahkan komputer klasik, bahkan yang paling canggih sekalipun. Perannya akan semakin penting seiring sistem AI menjadi lebih kompleks dan membutuhkan daya komputasi yang jauh lebih besar.
Kesenjangan Kesiapan yang Berisiko Strategis
Peneliti IBM menyebut komputasi kuantum sebagai kekuatan kelima—dan yang paling sering diremehkan—dari lima faktor utama yang akan membentuk dunia usaha pada 2030. Empat faktor lainnya meliputi tekanan persaingan global, reinvestasi produktivitas, penggunaan model AI yang disesuaikan, serta keterbatasan otomatisasi.
Berbeda dengan adopsi teknologi sebelumnya, dampak awal komputasi kuantum diperkirakan tidak muncul secara mencolok. Teknologi ini kemungkinan besar akan hadir secara tidak langsung, tertanam dalam alur kerja hibrida yang menggabungkan sistem klasik, AI, dan kuantum.
Namun, data survei menunjukkan masih banyak eksekutif yang memandang komputasi kuantum sebagai topik riset jangka panjang, bukan prioritas perencanaan bisnis. Padahal, hampir enam dari sepuluh responden yakin teknologi ini akan mengubah industri mereka.
IBM menilai ketimpangan antara keyakinan dan kesiapan ini cukup unik. Pada transisi teknologi sebelumnya, seperti komputasi awan dan keamanan siber, ekspektasi adopsi biasanya sejalan dengan upaya persiapan. Dalam kasus komputasi kuantum, optimisme justru jauh melampaui tindakan nyata.
Risikonya bukan hanya kehilangan keunggulan awal, melainkan kegagalan beradaptasi saat teknologi kuantum mulai memengaruhi pasar secara tidak langsung, termasuk melalui rantai pasok, sistem keuangan global, penemuan obat, hingga infrastruktur nasional.
“Komputasi kuantum berpotensi mempercepat komputasi dan membuka kasus penggunaan yang melampaui kemampuan superkomputer saat ini,” tulis IBM dalam laporannya.
Dari Laboratorium Menuju Implementasi Nyata
Untuk menepis anggapan bahwa komputasi kuantum masih sebatas teori, IBM menyoroti sejumlah penerapan nyata di perusahaan besar. Salah satu contoh utama datang dari perusahaan bioteknologi Moderna.
Moderna menggunakan algoritma kuantum untuk membantu desain mRNA, khususnya dalam memprediksi bagaimana untaian messenger RNA melipat. Masalah ini sangat kompleks karena memiliki jumlah kemungkinan konfigurasi yang sangat besar.
“Tujuan kami adalah meningkatkan kesehatan manusia,” ujar Alexey Galda, Direktur Ilmiah Asosiasi untuk Algoritma dan Aplikasi Kuantum di Moderna. “Karena itu, penting bagi kami untuk mengeksplorasi semua alat yang tersedia, termasuk komputasi kuantum, tanpa harus menunggu teknologi ini sepenuhnya matang.”
IBM mencatat bahwa Moderna telah menggunakan sistem kuantum hingga 80 qubit untuk memodelkan struktur sekunder mRNA, serta hingga 156 qubit untuk masalah optimasi yang lebih besar. Hasilnya setara dengan metode klasik komersial, sebuah pencapaian penting bagi teknologi kuantum.
IBM menekankan bahwa nilai utama dari pencapaian ini bukan pada keunggulan performa, melainkan pada bukti bahwa komputasi kuantum kini mulai relevan untuk beban kerja perusahaan yang spesifik.
Di sektor keuangan, IBM juga mencatat eksperimen awal seperti demonstrasi perdagangan algoritmik berbasis kuantum oleh HSBC. Dengan kebutuhan tinggi akan optimasi dan manajemen risiko, sektor keuangan diprediksi menjadi salah satu yang paling awal mengadopsi teknologi ini.
Strategi AI Saja Dinilai Tidak Cukup
Meski AI menjadi fokus utama banyak perusahaan, IBM mengingatkan bahwa strategi AI saja tidak cukup untuk menghadapi dekade mendatang. Dalam survei tersebut, 79% eksekutif menyebut AI akan berkontribusi signifikan terhadap pendapatan pada 2030. Namun, pertumbuhan AI justru akan meningkatkan kebutuhan akan bentuk komputasi baru.
Model AI yang semakin besar dan kompleks menciptakan tantangan optimasi yang sulit diatasi dengan pendekatan komputasi klasik. Di sinilah komputasi kuantum dinilai dapat berperan sebagai akselerator.
“Pada 2030, wawasan akan ada di mana-mana,” kata Chad Gates, Managing Director di Pronto Software. “AI akan bertindak sebagai sistem intelijen bisnis, mesin pengambilan keputusan, sekaligus bagian dari operasional perusahaan.”
IBM juga mengaitkan kesiapan kuantum dengan isu keamanan siber, terutama terkait kriptografi pasca-kuantum. Meski belum menjadi prioritas utama para eksekutif, keamanan siber disebut sebagai fondasi penting yang harus berkembang seiring teknologi baru.
Bersiap Menghadapi Keniscayaan
IBM tidak mendorong perusahaan untuk segera membeli atau menerapkan perangkat keras kuantum. Namun, perusahaan disarankan mulai membangun keahlian, kemitraan, serta kerangka tata kelola sejak dini—seperti halnya komputasi awan di masa awal kemunculannya.
Perusahaan juga dianjurkan bereksperimen dengan alur kerja hibrida dan memantau perkembangan komputasi kuantum sebagai bagian dari manajemen risiko strategis.
Kesimpulan IBM cukup tegas: dunia usaha pada 2030 tidak akan ditentukan oleh satu teknologi tunggal, melainkan oleh kemampuan organisasi dalam mengintegrasikan berbagai sistem secara adaptif. Dalam konteks ini, komputasi kuantum bukan lagi sekadar wacana masa depan, melainkan perubahan yang pelan tapi pasti sedang mendekat.
