Qoro Luncurkan Solo, Platform Cloud Simulasi Komputasi Kuantum
- Rita Puspita Sari
- •
- 21 jam yang lalu
Ilustrasi Platform Cloud Quantum
Perkembangan teknologi komputasi kuantum terus menunjukkan kemajuan pesat. Salah satu inovasi terbaru datang dari perusahaan teknologi kuantum Qoro Quantum, yang baru saja meluncurkan platform cloud bernama Solo. Platform ini dirancang untuk memudahkan para pengembang teknologi informasi (IT), perusahaan, hingga ilmuwan dalam melakukan simulasi komputasi kuantum-klasik secara lebih cepat dan efisien.
Peluncuran Solo menjadi langkah penting dalam upaya menyederhanakan proses pengembangan sistem komputasi hibrida. Selama ini, membangun alur kerja komputasi yang menggabungkan berbagai jenis prosesor seperti CPU, GPU, dan Quantum Processing Unit (QPU) bukanlah hal yang mudah. Sistem tersebut biasanya terpisah-pisah dan membutuhkan proses integrasi yang kompleks.
Para pengembang bahkan sering kali harus memiliki latar belakang akademis yang kuat di bidang komputasi kuantum untuk dapat menggabungkan berbagai teknologi tersebut. Tidak jarang pula mereka harus menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk menulis kode integrasi khusus agar sistem dapat bekerja secara optimal.
Melalui Solo, Qoro berupaya menghilangkan hambatan tersebut. Platform ini memungkinkan pengguna mengakses simulasi komputasi kuantum-klasik melalui layanan cloud secara mandiri tanpa perlu menulis ulang kode setiap kali ingin mencoba simulator baru atau backend kuantum yang berbeda.
Dengan kata lain, Solo membantu menyederhanakan proses eksperimen dan pengujian algoritma kuantum. Pengembang dapat langsung menjalankan simulasi tanpa harus membangun infrastruktur yang rumit dari awal.
Mempercepat Simulasi Hingga Ribuan Kali
Salah satu keunggulan utama Solo terletak pada kemampuannya mempercepat proses simulasi komputasi kuantum dalam skala besar. Dalam pengujian yang dilakukan oleh Qoro, menjalankan sekitar 9.000 pekerjaan simulasi kuantum pada sistem lokal standar biasanya memerlukan waktu lebih dari satu hari.
Namun dengan memanfaatkan Solo, pekerjaan yang sama dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari 10 menit. Perbedaan waktu yang sangat signifikan ini terjadi karena Solo memanfaatkan teknik paralelisasi komputasi yang memungkinkan banyak proses dijalankan secara bersamaan.
CEO Qoro Quantum, Dan Holme, menjelaskan bahwa para pengembang yang bekerja pada masalah komputasi kuantum berskala besar saat ini mulai menghadapi keterbatasan simulasi klasik.
Menurutnya, beberapa persoalan komputasi modern—seperti optimasi portofolio keuangan—sudah terlalu besar untuk ditangani oleh server konvensional berkinerja tinggi. Di sisi lain, masalah tersebut juga masih terlalu kompleks untuk dijalankan secara langsung pada perangkat QPU fisik yang tersedia saat ini.
“Banyak perusahaan di industri fokus pada pengaturan pekerjaan komputasi secara berurutan melalui antrean. Sementara itu, Qoro menghadirkan pendekatan paralelisasi berlapis yang memungkinkan pemrosesan dilakukan secara simultan di berbagai tingkat,” jelas Holme.
Pendekatan ini mencakup berbagai aspek komputasi, mulai dari perhitungan matematika pada tingkat aplikasi hingga pemrosesan algoritma yang lebih kompleks.
Hadirkan Ekosistem Teknologi Terintegrasi
Selain Solo, Qoro juga memperkenalkan solusi lain bernama Dedicato. Berbeda dengan Solo yang berbasis cloud bersama, Dedicato memungkinkan perusahaan untuk memasang sistem teknologi Qoro secara langsung di lingkungan mereka sendiri.
Sistem ini dapat diinstal baik pada infrastruktur internal perusahaan (on-premise) maupun pada layanan cloud privat. Hal ini memberikan fleksibilitas bagi perusahaan yang membutuhkan kontrol lebih besar terhadap sistem komputasi mereka.
Baik Solo maupun Dedicato sebenarnya berfungsi sebagai pintu masuk menuju teknologi inti milik Qoro yang terdiri dari tiga komponen utama, yaitu Divi, Composer, dan Maestro.
Divi merupakan library Python sumber terbuka yang memungkinkan pengembang membangun aplikasi komputasi hibrida langsung dari lingkungan pengembangan mereka. Dengan alat ini, proses pembuatan algoritma kuantum menjadi lebih fleksibel dan mudah dikembangkan.
Sementara itu, Composer berperan sebagai alat orkestrasi yang mengatur penjadwalan dan eksekusi berbagai beban kerja komputasi kuantum. Composer mampu menjalankan pekerjaan tersebut di berbagai perangkat keras dan simulator yang berbeda secara terkoordinasi.
Komponen ketiga adalah Maestro, yaitu kerangka kerja simulasi cerdas yang berfungsi sebagai antarmuka multi-simulator. Sistem ini dirancang untuk memaksimalkan kemampuan simulasi klasik dengan memanfaatkan CPU, GPU, dan QPU secara bersamaan.
Chief Technology Officer Qoro Quantum, Stephen DiAdamo, menjelaskan bahwa setiap jenis prosesor sebenarnya memiliki keunggulan masing-masing.
CPU dikenal unggul dalam tugas komputasi umum, GPU sangat efektif untuk pemrosesan paralel skala besar, sementara QPU dirancang khusus untuk menjalankan algoritma kuantum yang sangat kompleks.
Sayangnya, selama ini ketiga jenis teknologi tersebut sering bekerja secara terpisah dalam ekosistem komputasi yang berbeda.
“Melalui Solo, kami ingin menyatukan berbagai dunia komputasi tersebut. Platform ini bertindak sebagai penghubung yang membuat berbagai sumber daya komputasi dapat diperlakukan seperti satu mesin logis yang terpadu,” jelas DiAdamo.
Dengan pendekatan ini, tim pengembang dapat dengan mudah beralih antara berbagai jenis komputasi tanpa harus menulis ulang kode dari awal. Hal ini tentu dapat mempercepat proses penelitian, pengembangan algoritma, hingga implementasi solusi komputasi kuantum di berbagai sektor industri.
Untuk mendorong lebih banyak pengembang mencoba teknologi ini, Qoro juga menawarkan kredit komputasi gratis senilai 100 dolar bagi pengguna baru. Melalui akses ini, para peneliti dan pengembang dapat langsung menjalankan algoritma paralel dan mengeksplorasi kemampuan platform Solo dalam simulasi komputasi kuantum-klasik.
