Diffraqtion MIT Hadirkan Kamera Kuantum 1.000x Lebih Cepat
- Rita Puspita Sari
- •
- 5 hari yang lalu
Ilustrasi Satelit
Perusahaan rintisan hasil spinout dari MIT dan University of Maryland, Diffraqtion, baru-baru ini mengumumkan pendanaan tahap awal (pre-seed) untuk mengembangkan konstelasi satelit yang menggunakan teknologi kamera kuantum mutakhir. Teknologi ini menawarkan kemampuan pemrosesan gambar 1.000 kali lebih cepat dibandingkan sistem konvensional dan mampu menghasilkan resolusi gambar hingga 20 kali lebih tinggi. Dengan inovasi ini, Diffraqtion membuka peluang untuk pencitraan resolusi ultra-tinggi dengan biaya yang jauh lebih efisien dibanding teknologi satelit saat ini.
Pendanaan Pre-Seed Senilai US$4,2 Juta
Pendanaan tahap awal Diffraqtion berhasil mencapai US$4,2 juta, yang berasal dari kombinasi investasi ekuitas dan kontrak non-ekuitas dari DARPA. Pendanaan ini dipimpin oleh QDNL Participations, dengan dukungan tambahan dari milemark•capital, Aether VC, ADIN, dan Offline Ventures. Dana tersebut akan digunakan untuk membangun dan meluncurkan konstelasi satelit yang dilengkapi kamera kuantum Diffraqtion, terutama untuk aplikasi pemantauan situasi di ruang angkasa.
Selain pendanaan, Diffraqtion juga meraih sejumlah pengakuan bergengsi. Perusahaan ini menempati juara pertama SLUSH 100, membawa pulang hadiah ekuitas senilai US$1,1 juta, serta meraih penghargaan sebesar US$100.000 dari TechConnect. Saat ini, Diffraqtion juga mengikuti program Apollo Accelerator milik U.S. Space Force, di mana teknologi pencitraan kuantumnya didemonstrasikan secara langsung kepada mitra pemerintah.
Menurut QDNL Participations, keahlian tim Diffraqtion menjadi kunci sukses dalam menerjemahkan teknologi kuantum yang kompleks menjadi aplikasi nyata yang dapat digunakan dalam berbagai kebutuhan operasional.
Kamera Kuantum Diffraqtion: Lompatan Besar dalam Pencitraan
Teknologi kamera kuantum Diffraqtion menawarkan kemampuan lompatan besar dalam dunia pencitraan. Kamera ini mampu menangkap gambar dengan resolusi hingga 20 kali lebih tinggi dibanding sistem konvensional, sambil memproses data 1.000 kali lebih cepat. Hal ini memungkinkan penangkapan dan analisis informasi visual dengan efisiensi yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan.
Teknologi inti ini dikembangkan dari penelitian yang dipimpin Profesor Saikat Guha, yang memanfaatkan hak kekayaan intelektual pencitraan kuantum yang telah dipatenkan. Pendekatan baru ini mampu meningkatkan kejernihan gambar sekaligus mempercepat pengolahan data secara drastis. Dengan kemampuan tersebut, Diffraqtion dapat meluncurkan banyak satelit berbiaya rendah namun memiliki presisi tinggi, untuk keperluan pemantauan ruang angkasa dan observasi Bumi.
Konstelasi satelit ini dirancang untuk mendukung berbagai bidang strategis. Mulai dari peningkatan keselamatan orbit satelit, pengumpulan intelijen, hingga pemantauan pertanian dan wilayah terdampak bencana alam. Tujuan utamanya adalah memberikan pengamatan yang lebih jelas, berkelanjutan, dan real-time, sehingga mampu menutup kesenjangan besar dalam infrastruktur pencitraan saat ini.
Infrastruktur berbasis luar angkasa memang memegang peran penting dalam komunikasi, navigasi, dan pertahanan. Dengan dukungan pencitraan Bumi, teknologi ini juga membantu sektor pertanian, penanggulangan bencana, hingga pemantauan lingkungan.
Tim Diffraqtion: Ahli Sensor Kuantum dari MIT dan Maryland
Keunggulan teknologi Diffraqtion tidak lepas dari kualitas tim inti yang berpengalaman di bidang sensor kuantum. Johannes Galatsanos, CEO dan Co-Founder, memiliki pengalaman lebih dari 15 tahun di bidang AI dan teknologi kuantum, dengan latar belakang kerja di MIT, Oxford, dan Novartis. Fokus utamanya adalah membangun tim produk data dan AI yang kompeten.
Sementara itu, Christine Wang, Co-Founder dan CTO, membawa pengalaman lebih dari 20 tahun dalam merancang perangkat fotonik dan optik. Ia sebelumnya memimpin divisi optik di Riverside Research dan Draper Labs, menjadikannya tokoh kunci dalam pengembangan perangkat keras kamera kuantum Diffraqtion.
Tokoh penting lainnya adalah Profesor Saikat Guha, Co-Founder sekaligus Penasihat Ilmiah Utama. Guha adalah profesor terkemuka di University of Maryland dan juga dosen tambahan di MIT. Ia dikenal luas sebagai pakar sensor kuantum, dengan lebih dari 100 paten dan 10.000 sitasi ilmiah. Ia juga merupakan penemu dari hak kekayaan intelektual pencitraan kuantum yang dipatenkan oleh Diffraqtion.
Riset dasar yang dilakukan Guha ini awalnya dikembangkan dengan dukungan NASA dan DARPA, dan terbukti mampu menghasilkan resolusi hingga 20 kali lebih tinggi serta kecepatan pemrosesan 1.000 kali lebih cepat dibandingkan teknologi konvensional. Penemuan ini membuka jalan bagi pengembangan satelit murah namun sangat presisi, yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan strategis di Bumi maupun luar angkasa.
Menatap Masa Depan
Dengan teknologi kamera kuantum yang revolusioner ini, Diffraqtion berpotensi mengubah cara kita memandang pencitraan satelit dan observasi Bumi. Selain mendukung sektor pemerintahan dan pertahanan, teknologi ini juga dapat diterapkan untuk pemantauan lingkungan, mitigasi bencana, hingga peningkatan produktivitas pertanian.
Kecepatan dan resolusi tinggi yang ditawarkan kamera kuantum Diffraqtion membuka kemungkinan untuk pengamatan yang lebih kontinu, lebih jelas, dan lebih luas, sekaligus menekan biaya operasional dibanding teknologi satelit tradisional. Langkah ini menandai era baru dalam pencitraan kuantum dan eksplorasi ruang angkasa, sekaligus menjadi contoh nyata bagaimana penelitian akademis dapat diterjemahkan menjadi inovasi teknologi yang memiliki dampak global.
Dengan kombinasi pendanaan, keahlian tim, dan teknologi mutakhir, Diffraqtion siap menjadi pelopor dalam menghadirkan konstelasi satelit berbiaya rendah dengan kemampuan tinggi, yang tidak hanya mempermudah pengamatan Bumi dan ruang angkasa, tetapi juga mendukung berbagai kebutuhan kritis di abad ke-21.
