Benarkah Dunia Ini Proyeksi? Mengenal Prinsip Holografik
- Rita Puspita Sari
- •
- 6 hari yang lalu
Ilustrasi Prinsip Holografik
Sejak dahulu kala, manusia selalu bertanya tentang hakikat realitas. Para filsuf Yunani, ilmuwan modern, hingga fisikawan abad ke-21 sama-sama berusaha menjawab pertanyaan mendasar: apa sebenarnya alam semesta ini? Apakah dunia yang kita lihat, sentuh, dan rasakan benar-benar nyata sebagaimana adanya, ataukah hanya tampilan permukaan dari sesuatu yang lebih dalam?
Pertanyaan inilah yang melahirkan sebuah gagasan mengejutkan dalam fisika modern yang dikenal sebagai prinsip holografik. Gagasan ini menyatakan bahwa alam semesta tiga dimensi yang kita alami mungkin bukanlah sesuatu yang fundamental, melainkan hanya sebuah proyeksi—mirip hologram—dari realitas berdimensi lebih rendah.
Alam Semesta sebagai Hologram
Prinsip holografik pertama kali diperkenalkan oleh fisikawan Belanda peraih Nobel, Gerard ’t Hooft, pada tahun 1993, lalu dikembangkan secara lebih mendalam oleh Leonard Susskind dari Universitas Stanford. Ide dasarnya terdengar sederhana namun sangat radikal: seluruh informasi yang terdapat dalam suatu ruang dapat disimpan pada batas permukaannya.
Analogi yang sering digunakan adalah hologram. Sebuah hologram dapat menampilkan gambar tiga dimensi yang tampak nyata, padahal seluruh informasinya tersimpan pada lembaran dua dimensi. Dengan cara yang serupa, prinsip holografik menyatakan bahwa alam semesta tiga dimensi mungkin hanyalah “tampilan” dari informasi yang tersimpan pada batas kosmik dua dimensi.
Black Hole dan Paradoks Informasi
Akar dari prinsip holografik berawal dari studi tentang Black Hole, objek kosmik ekstrem yang gravitasinya begitu kuat hingga cahaya pun tidak bisa lolos. Menurut fisika klasik, segala sesuatu yang jatuh ke dalam Black Hole akan hilang selamanya. Namun, hal ini bertentangan dengan mekanika kuantum yang menyatakan bahwa informasi tidak bisa dimusnahkan.
Pada tahun 1970-an, Jacob Bekenstein mengajukan gagasan revolusioner bahwa black hole memiliki entropi yang sebanding dengan luas permukaannya, bukan volumenya. Ini berarti informasi dari benda yang jatuh ke black hole tidak hilang, melainkan tersimpan di cakrawala peristiwa, yaitu batas luar Black Hole.
Penemuan ini diperkuat oleh Stephen Hawking, yang menunjukkan bahwa black hole memancarkan radiasi—yang kini dikenal sebagai radiasi Hawking. Temuan tersebut memperkuat gagasan bahwa black hole tidak menghancurkan informasi, melainkan menyimpannya dengan cara yang sangat kompleks.
Dari Black Hole ke Seluruh Alam Semesta
Leonard Susskind kemudian mengambil langkah lebih jauh. Jika informasi pada black hole disimpan di permukaannya, mengapa prinsip yang sama tidak berlaku untuk seluruh alam semesta? Ia mengusulkan bahwa alam semesta memiliki batas hipotetis tempat seluruh informasi tentang isi kosmos tersimpan.
Menariknya, jumlah maksimum informasi yang dapat disimpan pada batas ini ternyata sebanding dengan informasi yang terdapat di alam semesta teramati. Temuan ini mengisyaratkan adanya hubungan mendalam antara ruang, informasi, dan realitas itu sendiri. Prinsip ini juga menggoyahkan konsep lokalitas, yaitu gagasan bahwa suatu objek hanya dipengaruhi oleh lingkungan terdekatnya.
Dualitas Holografik dan AdS/CFT
Prinsip holografik mendapatkan dasar matematis yang kuat melalui teori yang dikenal sebagai korespondensi AdS/CFT, yang dikembangkan oleh Juan Maldacena. Teori ini menunjukkan bahwa sistem gravitasi dalam ruang-waktu tertentu setara secara matematis dengan teori medan kuantum tanpa gravitasi di batas ruang tersebut.
Walaupun alam semesta kita bukan ruang AdS, korespondensi ini menjadi alat penting bagi para fisikawan untuk memahami sistem kuantum kompleks dan mengeksplorasi kemungkinan bahwa realitas ruang-waktu bersifat emergent, bukan fundamental.
Ruang-Waktu dan Keterikatan Kuantum
Salah satu gagasan paling menarik dari prinsip holografik adalah peran keterikatan kuantum. Fisikawan Mark Van Raamsdonk mengusulkan bahwa ruang-waktu itu sendiri terbentuk dari keterikatan kuantum. Semakin kuat keterikatan antara dua wilayah, semakin “dekat” keduanya dalam struktur ruang-waktu.
Pandangan ini mengubah cara kita memahami alam semesta. Ruang dan waktu bukan lagi panggung tempat peristiwa fisika terjadi, melainkan hasil dari jaringan informasi kuantum yang saling terhubung.
Tantangan dan Masa Depan Penelitian
Menguji prinsip holografik secara langsung bukanlah hal mudah. Skala energi yang dibutuhkan untuk mengamati gravitasi kuantum berada jauh di luar jangkauan teknologi saat ini. Meski demikian, para ilmuwan mencoba pendekatan tidak langsung melalui studi materi terkondensasi, kosmologi awal, serta pencarian penyimpangan kecil dalam hukum fisika fundamental.
Menggugat Persepsi tentang Realitas
Prinsip holografik memaksa kita untuk meninjau ulang apa yang kita anggap sebagai “kenyataan”. Bisa jadi ruang, waktu, dan bahkan gravitasi hanyalah hasil dari struktur informasi yang lebih mendasar. Jika benar demikian, maka alam semesta bukan sekadar kumpulan benda dan energi, melainkan manifestasi dari informasi itu sendiri.
Walaupun masih menjadi wilayah penelitian aktif, prinsip holografik telah membuka cara pandang baru yang revolusioner. Ia mengajarkan bahwa realitas mungkin jauh lebih sederhana—dan sekaligus jauh lebih menakjubkan—daripada yang selama ini kita bayangkan.
