BTQ Luncurkan Bitcoin Quantum, Solusi Ancaman Komputasi Kuantum


Ilustrasi Bitcoin

Ilustrasi Bitcoin

Ancaman komputasi kuantum terhadap sistem kriptografi global bukan lagi sekadar teori. Di tengah percepatan riset dan pengembangan komputer kuantum oleh raksasa teknologi dunia, keamanan aset digital seperti Bitcoin mulai menghadapi tantangan serius. Menjawab tantangan tersebut, BTQ Technologies Corp. secara resmi meluncurkan Bitcoin Quantum testnet, sebuah jaringan uji coba yang diklaim sebagai fork Bitcoin pertama yang dirancang aman dari serangan komputer kuantum.

Peluncuran ini memiliki makna simbolis sekaligus strategis. Bitcoin Quantum testnet diperkenalkan tepat 17 tahun setelah Satoshi Nakamoto menambang blok genesis Bitcoin pada 3 Januari 2009, momen yang menandai lahirnya sistem uang digital terdesentralisasi pertama di dunia. Kini, di usia yang ke-17, Bitcoin kembali berada di persimpangan sejarah, menghadapi ancaman teknologi baru yang berpotensi meruntuhkan fondasi keamanannya.

BTQ Technologies sendiri merupakan perusahaan teknologi kuantum global yang berfokus pada pengamanan jaringan dan sistem kritis. Terdaftar di Nasdaq dan CBOE Canada, BTQ menempatkan diri sebagai pemain awal dalam upaya transisi dunia kripto menuju era pasca-kuantum.

 

Menjawab Ancaman Kuantum terhadap Bitcoin

Bitcoin selama ini mengandalkan algoritma tanda tangan digital ECDSA (Elliptic Curve Digital Signature Algorithm) untuk mengamankan transaksi. Masalahnya, algoritma ini dirancang dengan asumsi bahwa komputer klasik membutuhkan waktu sangat lama untuk memecahkan kunci kriptografi Bitcoin. Asumsi tersebut mulai goyah seiring kemajuan komputer kuantum yang secara teoritis mampu memecahkan ECDSA jauh lebih cepat.

Menurut berbagai kajian industri, saat ini terdapat sekitar 6,26 juta BTC yang tersimpan di alamat dengan public key terbuka. Artinya, kunci publik dari alamat-alamat tersebut sudah terekspos di blockchain dan dapat menjadi target empuk ketika komputer kuantum yang cukup kuat tersedia. Dengan nilai Bitcoin mendekati US$2 triliun, potensi risiko yang dihadapi tidak lagi kecil.

Bitcoin Quantum hadir untuk menjawab kekhawatiran ini. Dalam jaringan testnet-nya, BTQ mengganti ECDSA dengan ML-DSA (Module-Lattice Digital Signature Algorithm), sebuah algoritma kriptografi pasca-kuantum yang telah distandarisasi oleh NIST (National Institute of Standards and Technology) dan diwajibkan oleh pemerintah Amerika Serikat untuk melindungi sistem keamanan nasional.

“Tujuh belas tahun lalu, Bitcoin memperkenalkan paradigma baru untuk nilai digital. Hari ini, kami meluncurkan testnet yang bertujuan memastikan model keamanan Bitcoin dapat bertahan di era kuantum,” ujar Olivier Roussy Newton, CEO dan Chairman BTQ Technologies.

Ia menambahkan, saat komunitas Bitcoin masih berada dalam tahap diskusi dan eksplorasi solusi pasca-kuantum, BTQ memilih pendekatan yang lebih praktis. “Kami menyediakan lingkungan terbuka dan nyata, tempat industri bisa langsung menguji, memvalidasi, dan menyempurnakan solusi tahan-kuantum sebelum ancaman itu benar-benar datang,” tegasnya.

 

Testnet Terbuka dan Tanpa Izin

Salah satu karakter utama Bitcoin adalah sifatnya yang terbuka dan tanpa izin. Prinsip ini juga diadopsi sepenuhnya oleh Bitcoin Quantum testnet. BTQ membuka jaringan ini bagi siapa saja yang ingin berpartisipasi, baik individu maupun institusi, tanpa proses perizinan khusus.

Partisipasi dalam testnet ini dibagi ke dalam empat peran utama. Miner dapat menjalankan node, menambang blok, dan mengirim transaksi aman-kuantum untuk menguji konsensus jaringan dalam kondisi nyata. Developer didorong untuk membangun antarmuka, dompet, alat bantu, hingga mining pool demi mempercepat perkembangan ekosistem.

Selain itu, peneliti keamanan memiliki peran penting untuk mengaudit implementasi ML-DSA, menguji performa jaringan, serta mensimulasikan berbagai skenario serangan. Sementara itu, pengguna umum diajak untuk membuat dompet, bertransaksi, dan bahkan mencoba “merusak” sistem guna menemukan celah sebelum jaringan utama diluncurkan.

Untuk mendukung aktivitas tersebut, BTQ menyediakan infrastruktur yang langsung dapat digunakan, termasuk block explorer dan mining pool yang bisa diakses secara global.

 

Dukungan dan Validasi dari Delphi Digital

Langkah BTQ mendapat validasi dari kalangan analis industri. Dalam laporan Desember 2025 berjudul “BTQ Technologies: Securing Crypto’s Future Against the Quantum Threat”, perusahaan riset aset digital Delphi Digital menyebut Bitcoin Quantum sebagai fondasi penting dalam transisi kripto menuju era post-quantum.

Delphi memperkirakan sekitar 6,65 juta BTC berada dalam risiko kuantum akibat public key yang telah terekspos secara permanen, termasuk estimasi kepemilikan Satoshi Nakamoto yang berkisar antara 600.000 hingga 1,1 juta BTC. Laporan tersebut menyebut Bitcoin Quantum sebagai “quantum canary network”, yakni jaringan peringatan dini yang memungkinkan industri menguji solusi tahan-kuantum tanpa membahayakan jaringan Bitcoin utama.

Bahkan, Delphi menilai BTQ berpotensi menjadi semacam “asuransi kuantum” yang menjaga janji Bitcoin sebagai uang digital yang berdaulat dan aman di masa depan.

 

Perlombaan Teknologi Kuantum Kian Memanas

Peluncuran Bitcoin Quantum testnet terjadi di tengah percepatan besar pengembangan komputer kuantum global. Google, misalnya, pada Desember 2024 mengumumkan chip Willow yang berhasil mendemonstrasikan koreksi kesalahan kuantum di bawah ambang batas, sebuah terobosan penting menuju komputer kuantum yang stabil dan skalabel.

Tak lama berselang, Microsoft memperkenalkan Majorana 1, prosesor qubit topologis pertama yang diyakini mampu mempercepat pengembangan komputer kuantum relevan secara kriptografi. Peta jalan industri bahkan menargetkan pencapaian satu juta qubit pada 2030, dengan efisiensi yang terus meningkat.

Ancaman yang dikenal sebagai “Harvest Now, Decrypt Later” pun semakin nyata. Dalam skenario ini, pihak jahat mengumpulkan data terenkripsi hari ini untuk dipecahkan di masa depan ketika komputer kuantum telah cukup kuat. Karena sifat blockchain yang permanen, transaksi lama Bitcoin tetap bisa menjadi sasaran.

Pendiri Ethereum, Vitalik Buterin, secara terbuka menyatakan adanya 20 persen kemungkinan komputer kuantum yang mampu meretas kriptografi saat ini akan hadir sebelum 2030. Ia bahkan merekomendasikan agar jaringan blockchain siap menghadapi era tersebut sebelum 2035.

 

Pemerintah AS dan Investor Mulai Bertindak

Urgensi migrasi ke post-quantum cryptography juga ditegaskan oleh kebijakan pemerintah Amerika Serikat. Pada November 2025, Departemen Pertahanan AS mewajibkan seluruh sistemnya beralih ke algoritma pasca-kuantum sebelum akhir 2030. Kebijakan ini diperkuat oleh standar NIST, mandat NSA, serta alokasi dana miliaran dolar untuk transisi nasional.

Di sisi lain, investor institusional mulai mengakui risiko kuantum sebagai faktor penting. BlackRock memperluas peringatan risiko kuantum dalam prospektus ETF Bitcoin-nya, sementara CEO VanEck secara terbuka menyatakan kesiapan untuk meninggalkan Bitcoin jika fondasi keamanannya dianggap rusak. JPMorgan Chase bahkan telah berinvestasi besar di sektor komputasi kuantum.

 

Mengisi Kekosongan yang Belum Tersentuh Bitcoin Core

Meski ancaman kuantum semakin jelas, pengembangan solusi post-quantum di Bitcoin Core masih berjalan lambat. Proposal BIP 360 yang diajukan sejak 2024 hingga kini masih berstatus draf. Mengingat sejarah Bitcoin yang konservatif—di mana SegWit dan Taproot membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diadopsi—Bitcoin Quantum menawarkan alternatif yang siap diuji sejak sekarang.

“Ancaman kuantum tidak menunggu konsensus,” tegas Roussy Newton. Dengan meluncurkan Bitcoin Quantum testnet pada peringatan 17 tahun Bitcoin, BTQ tidak hanya menghormati visi Satoshi Nakamoto, tetapi juga berupaya memastikan visi tersebut mampu bertahan menghadapi transisi kriptografi terbesar dalam sejarah komputasi.

Bagikan artikel ini

Komentar ()

Video Terkait