Eksperimen Ungkap Jejak Gravitasi Einstein di Dunia Kuantum
- Rita Puspita Sari
- •
- 17 jam yang lalu
Ilustrasi Gravitasi Kuantum
Sebuah eksperimen terbaru memberikan petunjuk penting tentang bagaimana hukum gravitasi Einstein bekerja ketika diterapkan pada dunia kuantum. Tim ilmuwan internasional yang melibatkan fisikawan peraih Nobel, Profesor Sir Roger Penrose, untuk pertama kalinya berhasil mengamati efek gravitasi yang telah lama diprediksi pada objek kuantum yang mengalami jatuh bebas.
Penelitian ini menjadi menarik karena mempertemukan dua teori yang selama ini menjadi fondasi utama fisika modern, yaitu mekanika kuantum dan teori gravitasi Einstein. Keduanya telah terbukti sangat akurat dalam menjelaskan berbagai fenomena alam, tetapi para ilmuwan masih menghadapi pertanyaan besar: bagaimana kedua teori tersebut dapat bekerja bersama dalam satu kerangka pemahaman tentang alam semesta?
Studi yang dipimpin oleh Ben-Gurion University of the Negev, University of Ulm, dan University of Oxford tersebut menunjukkan bahwa salah satu prinsip penting dalam teori gravitasi Einstein tetap konsisten ketika diuji menggunakan sistem kuantum. Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Science Advances pada 2 September 2026.
Dua Teori Besar yang Belum Sepenuhnya Menyatu
Selama lebih dari satu abad, fisikawan menggunakan dua teori utama untuk memahami alam.
Pertama adalah mekanika kuantum yang menjelaskan perilaku materi pada skala sangat kecil, seperti atom dan partikel subatom. Pada skala ini, benda dapat menunjukkan perilaku yang berbeda dari pengalaman sehari-hari. Partikel dapat memiliki sifat seperti gelombang dan, dalam kondisi tertentu, dapat berada dalam keadaan superposisi.
Kedua adalah teori relativitas umum Einstein yang menjelaskan gravitasi, gerakan benda, ruang, waktu, hingga struktur alam semesta dalam skala besar.
Kedua teori tersebut sama-sama memiliki keberhasilan luar biasa. Persoalannya, keduanya belum sepenuhnya dapat disatukan. Para ilmuwan masih mencari cara untuk menjelaskan bagaimana hukum fisika bekerja ketika fenomena kuantum bertemu dengan gravitasi.
Eksperimen terbaru mencoba menguji wilayah pertemuan tersebut secara langsung. Para peneliti mengamati perubahan pada sifat kuantum atom ketika atom tersebut mengalami pengaruh gravitasi. Hasilnya kemudian dibandingkan dengan prediksi berdasarkan prinsip ekuivalensi Einstein.
Menguji Prinsip Ekuivalensi Einstein
Prinsip ekuivalensi merupakan salah satu fondasi penting teori gravitasi Einstein. Secara sederhana, prinsip ini menyatakan bahwa bagi seseorang yang berada dalam kondisi jatuh bebas, gravitasi secara lokal seolah-olah tidak terasa.
Gambaran sederhananya dapat dilihat dari seseorang yang berada di dalam lift yang jatuh bebas. Selama berada dalam kondisi tersebut, orang di dalam lift akan mengalami keadaan tanpa bobot atau weightlessness.
Prinsip ini telah diuji berkali-kali dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi menggunakan benda-benda biasa. Namun, mengujinya menggunakan objek kuantum merupakan persoalan yang jauh lebih kompleks.
Hal ini disebabkan objek kuantum tidak selalu berperilaku seperti benda yang kita temui sehari-hari. Partikel kuantum dapat menunjukkan sifat gelombang dan berada dalam keadaan superposisi. Artinya, secara efektif sebuah sistem kuantum dapat mengikuti lebih dari satu kemungkinan jalur pada waktu yang sama.
Kondisi tersebut kemudian dimanfaatkan para ilmuwan dalam eksperimen terbaru.
Quantum Galileo Interferometer
Untuk melakukan eksperimen, para peneliti menggunakan perangkat khusus yang disebut Quantum Galileo Interferometer.
Perangkat ini memungkinkan gelombang kuantum yang terkait dengan sebuah atom dibagi menjadi dua jalur. Salah satu bagian gelombang dibuat tetap berada di tempat, sedangkan bagian lainnya dibiarkan bergerak dan jatuh bebas akibat gravitasi.
Setelah beberapa saat, kedua bagian tersebut dipertemukan kembali. Ketika bertemu, keduanya menghasilkan pola interferensi. Pola tersebut kemudian digunakan untuk mengetahui perubahan kecil yang dialami gelombang kuantum selama proses berlangsung.
Teknik ini sangat penting karena memungkinkan ilmuwan membandingkan dua kondisi secara langsung: satu bagian atom yang dipertahankan tetap relatif terhadap laboratorium dan satu bagian lain yang benar-benar mengalami pengaruh gravitasi.
Dengan cara tersebut, efek gravitasi terhadap fase kuantum dapat diukur secara sangat presisi.
Atom Didinginkan Mendekati Nol Mutlak
Eksperimen dilakukan di Ben-Gurion University menggunakan awan atom rubidium yang didinginkan hingga suhu yang sangat dekat dengan nol mutlak. Atom-atom tersebut ditempatkan dan dikendalikan di dekat permukaan sebuah atom chip yang dirancang khusus. Kondisi suhu yang sangat rendah diperlukan agar perilaku kuantum atom dapat dikendalikan dengan lebih baik.
Tim penelitian, termasuk mahasiswa doktoral Or Dobkowski, menggunakan pulsa gelombang mikro untuk memasukkan atom-atom tersebut ke dalam keadaan superposisi kuantum.
Dalam kondisi ini, atom secara efektif dapat mengikuti dua jalur berbeda sekaligus. Selanjutnya, kabel-kabel listrik berukuran sangat kecil pada chip digunakan untuk menghasilkan medan magnet yang dapat dikontrol dengan sangat presisi.
Medan magnet tersebut digunakan untuk mengendalikan gerakan salah satu bagian gelombang atom. Para peneliti memberikan gaya ke atas yang tepat untuk mengimbangi tarikan gravitasi ke bawah.
Akibatnya, bagian tersebut tetap berada pada posisi yang relatif sama terhadap laboratorium dan permukaan Bumi.
Sementara itu, bagian gelombang lainnya didorong ke atas melalui pulsa magnetik yang dikontrol secara presisi. Setelah itu, bagian tersebut ditempatkan dalam kondisi yang hampir tidak terpengaruh oleh medan magnet sehingga dapat jatuh bebas karena gravitasi.
Gerakannya mengikuti lintasan balistik, mirip dengan bola yang dilempar ke udara. Bola bergerak naik, kemudian melambat karena gravitasi dan akhirnya kembali jatuh. Bedanya, dalam eksperimen ini yang diamati adalah bagian dari sistem kuantum.
Setelah proses jatuh selesai, pulsa magnetik lainnya digunakan untuk mempertemukan kembali kedua bagian gelombang.
Interferensi Mengungkap Perubahan Fase Kuantum
Ketika dua bagian gelombang tersebut kembali bertemu, keduanya mengalami interferensi. Fenomena inilah yang menjadi kunci eksperimen. Interferensi memungkinkan para peneliti mengukur perbedaan kecil pada fase kuantum yang terkumpul selama satu bagian gelombang mengalami jatuh bebas sementara bagian lainnya tetap berada di tempat.
Fase kuantum dapat dibayangkan sebagai informasi mengenai keadaan gelombang kuantum. Perubahan yang sangat kecil pada fase tersebut dapat memberikan informasi mengenai apa yang dialami sistem selama proses eksperimen.
Dalam penelitian ini, fase yang diukur ternyata sesuai dengan nilai yang diprediksi berdasarkan prinsip ekuivalensi Einstein ketika prinsip tersebut diterapkan pada gelombang kuantum. Hasil tersebut menjadi penting karena memberikan hubungan eksperimental antara fisika kuantum dan teori gravitasi Einstein.
Para peneliti menyebut eksperimen tersebut sebagai pengukuran langsung pertama terhadap fase kuantum yang diprediksi dari sebuah objek yang mengalami jatuh bebas. Sebelumnya, eksperimen menggunakan partikel kuantum memang telah dilakukan untuk mengukur gravitasi, tetapi penelitian ini menguji aspek yang berbeda dan lebih spesifik dari perilaku kuantum objek yang jatuh bebas.
Petunjuk Baru untuk Memahami Alam Semesta
Profesor Ron Folman dari Ben-Gurion University of the Negev, yang menjadi penulis utama penelitian, menilai eksperimen ini unik karena menggabungkan eksperimen yang sangat kompleks dengan pertanyaan teoretis yang sangat mendasar.
Pertanyaan tersebut adalah bagaimana gravitasi, yang dijelaskan melalui teori relativitas Einstein, dapat dipadukan dengan teori kuantum dalam satu pemahaman mengenai alam semesta.
Sampai sekarang, kedua teori tersebut masih menjadi dua pilar fisika modern yang belum berhasil disatukan sepenuhnya dalam sebuah kerangka teori terpadu. Menurut Folman, hasil eksperimen ini memberikan petunjuk tambahan mengenai kemungkinan bagaimana penyatuan tersebut dapat dicapai.
Profesor Vlatko Vedral dari Department of Physics, University of Oxford, juga menekankan pentingnya eksperimen tersebut. Menurutnya, belum ada teori konsisten yang menunjukkan alasan mekanika kuantum harus berhenti berlaku ketika memasuki wilayah gravitasi.
Eksperimen ini membawa mekanika kuantum ke salah satu wilayah yang paling menarik sekaligus sulit dipahami, yaitu gravitasi. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa prediksi mekanika kuantum tetap sesuai dengan hasil eksperimen dalam kondisi yang diuji.
Apakah Gravitasi Berarti Sudah Terbukti Kuantum?
Jawabanya adalah Tidak.
Poin ini penting untuk dipahami agar hasil penelitian tidak disalahartikan. Eksperimen tersebut belum berhasil menyatukan mekanika kuantum dengan gravitasi. Penelitian ini juga tidak membuktikan bahwa gravitasi itu sendiri merupakan fenomena kuantum. Yang ditunjukkan penelitian adalah bahwa prinsip ekuivalensi Einstein tetap konsisten dengan mekanika kuantum dalam kondisi yang diuji.
Dengan demikian, penelitian ini belum memberikan jawaban akhir mengenai bagaimana gravitasi dan mekanika kuantum dapat dijelaskan melalui satu teori yang sama. Namun, hasilnya memberikan bukti eksperimental penting bahwa salah satu prinsip fundamental Einstein tetap berlaku ketika diterapkan pada sistem kuantum.
Jalan Menuju Eksperimen dengan Objek Lebih Besar
Eksperimen ini juga berkaitan dengan gagasan Sir Roger Penrose mengenai kemungkinan batas mekanika kuantum.
Penrose berpendapat bahwa mekanika kuantum mungkin tidak berlaku secara sempurna untuk objek yang sangat masif apabila objek tersebut dapat dipertahankan dalam keadaan superposisi kuantum dalam waktu yang cukup lama.
Namun, eksperimen terbaru belum mencapai massa maupun rentang waktu yang diperlukan untuk menguji gagasan tersebut.
Meski demikian, para peneliti berharap metode yang mereka kembangkan dapat menjadi langkah awal menuju eksperimen dengan objek yang lebih besar. Salah satu kandidat yang menarik adalah nanodiamond, atau berlian berukuran nano.
Dengan menggunakan objek yang lebih besar dan lebih masif, ilmuwan dapat menguji lebih jauh apakah prinsip-prinsip mekanika kuantum tetap berlaku ketika ukuran dan massa sistem meningkat secara signifikan. Eksperimen untuk mengeksplorasi kemungkinan tersebut bahkan telah mulai dilakukan oleh kelompok penelitian yang sama di Ben-Gurion University of the Negev.
Potongan Penting dalam Pencarian Gravitasi Kuantum
Penelitian ini memang belum menghasilkan teori gravitasi kuantum. Namun, eksperimen tersebut memberikan satu potongan penting dalam teka-teki besar fisika modern. Mekanika kuantum sangat berhasil menjelaskan perilaku atom dan partikel. Di sisi lain, relativitas umum Einstein menjelaskan gravitasi, ruang, waktu, serta struktur alam semesta dalam skala besar.
Persoalannya muncul ketika kedua dunia tersebut harus dijelaskan secara bersamaan.
Eksperimen Quantum Galileo Interferometer menunjukkan bahwa prinsip ekuivalensi Einstein masih konsisten ketika diuji menggunakan objek kuantum. Temuan tersebut tidak menyelesaikan persoalan gravitasi kuantum, tetapi mempersempit ruang kemungkinan mengenai bagaimana hukum alam bekerja ketika gravitasi bertemu dengan mekanika kuantum.
Bagi dunia fisika, langkah seperti ini sangat penting. Kemajuan dalam memahami alam semesta tidak selalu hadir dalam bentuk penemuan teori baru secara langsung. Pengukuran eksperimental yang berhasil mengonfirmasi atau membatasi prediksi teori juga dapat menjadi fondasi bagi penelitian berikutnya.
Dalam konteks ini, keberhasilan mengukur fase kuantum dari objek yang mengalami jatuh bebas memberikan kesempatan bagi para ilmuwan untuk melangkah lebih jauh. Eksperimen dengan objek yang lebih berat, termasuk nanodiamond, berpotensi memberikan jawaban baru tentang batas mekanika kuantum dan hubungannya dengan gravitasi.
Dengan demikian, penelitian ini bukanlah akhir dari pencarian untuk menyatukan gravitasi dan mekanika kuantum. Sebaliknya, temuan tersebut menjadi langkah baru untuk memahami salah satu pertanyaan paling mendasar dalam fisika: apakah dua teori terbesar yang menjelaskan alam semesta dapat akhirnya dipertemukan dalam satu kerangka yang utuh?
Penelitian internasional ini melibatkan ilmuwan dari Ben-Gurion University of the Negev, University of Oxford, University of Southampton, German Aerospace Center melalui Institute of Quantum Technologies di Ulm, Universität Ulm, serta Texas A&M University.
