Proyek MIRAQLE Hadirkan MRI Kuantum untuk Deteksi Kanker
- Rita Puspita Sari
- •
- 1 hari yang lalu
Teknologi di Bidang Kesehatan
Upaya meningkatkan deteksi dini kanker kini memasuki babak baru melalui pengembangan teknologi MRI berbasis penguatan kuantum. Proyek penelitian bernama MIRAQLE ini diharapkan mampu membantu dokter melihat aktivitas kanker jauh sebelum penyakit tersebut dapat terdeteksi melalui pemindaian konvensional.
Teknologi tersebut dikembangkan melalui kolaborasi antara Aarhus University, MRI Research Center, dan NVision Imaging Technologies. Proyek ambisius ini juga mendapat dukungan pendanaan besar dari Innovation Fund Denmark sebesar 40 juta DKK atau sekitar puluhan miliar rupiah.
Para peneliti menilai metode diagnosis kanker saat ini masih memiliki keterbatasan besar, terutama dalam mendeteksi aktivitas metabolisme tumor. MRI konvensional memang mampu menunjukkan ukuran dan lokasi tumor, tetapi belum bisa memperlihatkan bagaimana sel kanker bekerja atau berkembang di dalam tubuh pasien.
Melalui MIRAQLE, para ilmuwan ingin mengubah pendekatan diagnosis kanker menjadi lebih cepat, akurat, dan detail. Teknologi baru ini memungkinkan dokter tidak hanya melihat lokasi kanker, tetapi juga memahami perilaku biologisnya secara langsung.
MRI Baru Bisa Membaca Aktivitas Metabolisme Kanker
Teknologi yang dikembangkan dalam proyek ini memanfaatkan prinsip fisika kuantum untuk memperkuat sinyal MRI dari zat kontras tertentu. Dengan penguatan tersebut, aktivitas metabolisme sel kanker dapat terlihat jelas saat pemeriksaan MRI dilakukan.
Sel kanker diketahui memiliki cara berbeda dalam mengolah gula dibandingkan jaringan sehat. Perbedaan metabolisme inilah yang menjadi target utama teknologi baru tersebut. Dengan melihat aktivitas metabolisme secara real time, dokter dapat mengetahui apakah kanker bersifat agresif, berkembang lambat, atau merespons pengobatan dengan baik.
CEO NVision Imaging Technologies, Sella Brosh, mengatakan pihaknya merasa terhormat dapat bekerja sama dengan Denmark untuk membawa teknologi MRI berbasis peningkatan kuantum menuju penggunaan klinis rutin.
Menurutnya, teknologi ini berpotensi membuka era baru dalam dunia diagnosis medis, terutama dalam mendeteksi penyakit serius pada tahap yang jauh lebih awal.
Sementara itu, pimpinan proyek sekaligus kepala MR Research Center di Aarhus University, Christoffer Laustsen, menilai teknologi ini dapat mengubah cara dokter mengevaluasi kanker.
Ia menjelaskan bahwa selama ini proses evaluasi perkembangan kanker bisa memakan waktu berbulan-bulan. Dengan MRI kuantum, proses tersebut berpotensi dipersingkat menjadi hanya beberapa hari sehingga keputusan medis dapat diambil lebih cepat.
Fokus Awal pada Kanker Hati
Dalam tahap awal, proyek MIRAQLE secara khusus difokuskan pada kanker hati. Jenis kanker ini dipilih karena diagnosis kanker hati stadium awal masih menjadi tantangan besar di dunia medis.
Dokter sering kesulitan membedakan antara perubahan jaringan hati yang bersifat jinak dengan tanda awal kanker. Akibatnya, banyak pasien baru mengetahui penyakitnya setelah memasuki stadium lanjut ketika pilihan pengobatan menjadi lebih terbatas.
Melalui teknologi MRI berbasis kuantum, dokter diharapkan mampu melihat perubahan metabolisme sel hati sejak tahap awal. Dengan demikian, kanker dapat ditemukan lebih cepat sebelum menyebar ke organ lain.
Tak hanya itu, teknologi ini juga dapat membantu menentukan tingkat agresivitas kanker sehingga terapi dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
Pendekatan tersebut dinilai penting karena setiap jenis kanker memiliki karakteristik berbeda. Beberapa tumor berkembang sangat cepat, sementara lainnya tumbuh lebih lambat. Informasi metabolisme menjadi kunci penting untuk menentukan strategi pengobatan paling efektif.
Diklaim 100.000 Kali Lebih Sensitif
Salah satu hal paling menarik dari proyek ini adalah tingkat sensitivitas teknologi yang sangat tinggi. Para peneliti mengklaim sistem MRI baru tersebut mampu bekerja hingga 100.000 kali lebih sensitif dibandingkan teknologi MRI yang tersedia saat ini.
Dengan sensitivitas setinggi itu, perubahan biologis yang sangat kecil pada tingkat sel dapat terdeteksi lebih awal. Hal ini membuka peluang besar untuk menemukan kanker sebelum tumor berkembang menjadi besar atau menyebar.
Selain lebih sensitif, teknologi ini juga memiliki keunggulan dari sisi keamanan. Berbeda dengan sejumlah metode diagnostik kanker lain yang menggunakan radiasi radioaktif, MRI kuantum ini dirancang tanpa paparan radiasi berbahaya.
Karena itu, pemeriksaan dapat menjadi lebih aman bagi pasien, termasuk bagi mereka yang membutuhkan pemantauan rutin dalam jangka panjang.
Menariknya lagi, teknologi tersebut tidak memerlukan pembangunan rumah sakit baru atau mesin khusus yang sepenuhnya berbeda. Sistem ini dirancang agar dapat diintegrasikan dengan mesin MRI yang sudah tersedia di rumah sakit modern.
Dengan pendekatan tersebut, penerapan teknologi di masa depan diharapkan menjadi lebih mudah dan lebih hemat biaya.
Proyek Lima Tahun Menuju Uji Klinis
Proyek MIRAQLE memiliki durasi pengembangan selama lima tahun. Penelitian akan mencakup berbagai tahap, mulai dari pengujian laboratorium, pengembangan teknologi pencitraan, hingga uji klinis pertama terhadap pasien.
Total anggaran proyek mencapai 51,5 juta DKK, dengan sebagian besar pendanaan berasal dari Innovation Fund Denmark.
Selain untuk pengembangan teknologi medis, proyek ini juga menjadi bagian dari ambisi Denmark memperkuat posisinya dalam bidang teknologi kesehatan dan teknologi kuantum global.
Kolaborasi antara universitas, peneliti medis, dan perusahaan teknologi dinilai dapat mempercepat lahirnya inovasi kesehatan baru yang berdampak luas bagi masyarakat.
Para peneliti berharap teknologi MRI kuantum nantinya dapat membantu dokter mengambil keputusan medis dengan lebih tepat, memberikan terapi yang lebih sesuai bagi pasien, serta mengurangi beban sistem kesehatan akibat keterlambatan diagnosis kanker.
Jika pengembangan berjalan sesuai rencana, MIRAQLE berpotensi menjadi salah satu terobosan terbesar dalam dunia pencitraan medis modern. Teknologi ini bukan hanya membantu menemukan kanker lebih cepat, tetapi juga memungkinkan dokter memahami bagaimana penyakit berkembang di dalam tubuh secara lebih mendalam.
Di masa depan, pendekatan semacam ini dapat membuka peluang pengobatan kanker yang lebih personal, efektif, dan aman bagi pasien di seluruh dunia.
