Microsoft Pamer Majorana 2, Chip Kuantum 1.000 Kali Lebih Andal
- Rita Puspita Sari
- •
- 19 jam yang lalu
Ilustrasi Chip Quantum Computing
Microsoft kembali membuat gebrakan di dunia teknologi dengan memperkenalkan chip kuantum terbaru bernama Majorana 2. Peluncuran ini bukan hanya menandai kemajuan signifikan dalam pengembangan komputasi kuantum, tetapi juga menjadi bukti nyata bagaimana kecerdasan buatan berbasis agen atau agentic AI mulai memainkan peran penting dalam dunia penelitian dan pengembangan ilmiah.
Perusahaan teknologi asal Amerika Serikat tersebut mengklaim bahwa Majorana 2 mampu menghadirkan peningkatan keandalan hingga 1.000 kali lipat dibandingkan generasi sebelumnya. Selain itu, masa hidup rata-rata qubit—unit dasar pemrosesan dalam komputer kuantum—mencapai 20 detik, jauh melampaui standar industri yang umumnya hanya bertahan dalam hitungan mikrodetik.
Pencapaian ini membuat Microsoft semakin optimistis terhadap masa depan komputasi kuantum. Bahkan, perusahaan tersebut mempercepat target pengembangan komputer kuantum yang dapat digunakan secara komersial dari sebelumnya tahun 2033 menjadi 2029.
Namun, di balik kemajuan teknologi chip kuantum ini, terdapat inovasi lain yang tidak kalah menarik perhatian, yaitu Microsoft Discovery, sebuah platform AI agen yang dirancang untuk membantu proses penelitian ilmiah. Menurut Microsoft, keberhasilan Majorana 2 menjadi salah satu bukti paling nyata bahwa penggunaan AI dalam riset dapat menghasilkan dampak yang signifikan.
Lompatan Besar dalam Teknologi Kuantum
Komputer kuantum selama ini menghadapi tantangan besar terkait stabilitas qubit. Berbeda dengan bit pada komputer konvensional yang hanya memiliki nilai 0 atau 1, qubit dapat berada dalam berbagai keadaan secara bersamaan. Kemampuan ini membuat komputer kuantum berpotensi menyelesaikan perhitungan yang sangat kompleks dalam waktu jauh lebih cepat.
Masalahnya, qubit sangat rentan terhadap gangguan lingkungan sehingga kondisi kuantumnya mudah hilang. Akibatnya, banyak sistem kuantum saat ini hanya mampu mempertahankan informasi selama waktu yang sangat singkat.
Di sinilah Majorana 2 menunjukkan keunggulannya. Microsoft menyebut chip ini mampu mempertahankan kondisi kuantum hingga sekitar satu menit dalam kondisi tertentu. Untuk menggambarkan peningkatan tersebut, perusahaan menggunakan analogi baterai ponsel. Jika baterai biasa hanya bertahan satu hari, maka peningkatan yang dicapai Majorana 2 setara dengan baterai yang mampu bertahan hampir tiga tahun dalam sekali pengisian daya.
Kemampuan ini menjadi langkah penting menuju terciptanya komputer kuantum yang lebih stabil, andal, dan siap digunakan untuk kebutuhan dunia nyata.
Apakah AI Merancang Majorana 2?
Kemunculan Microsoft Discovery memunculkan anggapan bahwa kecerdasan buatan secara langsung merancang chip kuantum tersebut. Namun, Microsoft menegaskan bahwa kenyataannya lebih kompleks dari itu.
Salah satu faktor terbesar yang berkontribusi terhadap peningkatan performa Majorana 2 adalah keputusan untuk mengganti material superkonduktor dari aluminium menjadi timbal (lead). Keputusan tersebut bukan hasil rekomendasi AI, melainkan buah dari penelitian material yang telah dilakukan selama bertahun-tahun oleh para ilmuwan.
Meski demikian, AI tetap memainkan peran yang sangat penting dalam proses pengembangannya.
Microsoft Discovery membantu tim peneliti mengelola berbagai tahapan fabrikasi chip, mengotomatisasi proses pengukuran yang rumit, mengintegrasikan hampir dua dekade data penelitian yang sebelumnya tersebar di berbagai sumber, hingga menemukan hubungan dan pola tersembunyi yang sulit dikenali manusia.
Corporate Vice President Quantum Microsoft, Zulfi Alam, menjelaskan bahwa AI mampu mengolah dan menyusun ulang data dalam skala yang tidak mungkin dilakukan oleh satu peneliti secara individu.
Menurutnya, AI dapat membantu para ilmuwan memahami peluang keberhasilan suatu eksperimen melalui simulasi yang lebih akurat. Dengan begitu, proses penelitian menjadi lebih efisien karena jumlah eksperimen yang harus dilakukan dapat berkurang secara signifikan.
AI Membantu Memecahkan Tantangan Pengukuran Qubit
Salah satu pencapaian terbesar Microsoft Discovery terlihat pada proses pengukuran qubit.
Dalam penelitian komputasi kuantum, para ilmuwan harus mendeteksi kondisi kuantum dengan menentukan apakah terdapat jumlah elektron genap atau ganjil pada sebuah kawat semikonduktor. Proses ini sangat kompleks dan sebelumnya membutuhkan waktu berminggu-minggu jika dilakukan secara manual.
Microsoft mengungkapkan bahwa mereka pernah mencoba mengotomatisasi proses tersebut menggunakan teknologi machine learning generasi sebelumnya. Namun upaya itu belum membuahkan hasil yang memuaskan.
Melalui Microsoft Discovery, para peneliti kini dapat membuat peta tiga dimensi dari berbagai kondisi qubit dan membiarkan AI mengelola ratusan parameter secara bersamaan.
Kemampuan tersebut menjadi keunggulan utama AI agen. Jika manusia cenderung bekerja secara bertahap dan linear, AI mampu mengevaluasi banyak kemungkinan dalam waktu yang sama, sehingga proses penelitian dapat berlangsung jauh lebih cepat.
Zulfi Alam bahkan menyebut kemampuan ini sebagai sebuah game changer yang berpotensi mengubah cara riset ilmiah dilakukan di masa depan.
Microsoft Discovery Mulai Dibuka untuk Dunia Industri
Seiring dengan pengumuman Majorana 2, Microsoft juga mengumumkan bahwa platform Microsoft Discovery kini tersedia untuk pelanggan perusahaan.
Platform tersebut menggabungkan berbagai komponen, mulai dari AI agen khusus penelitian ilmiah, Discovery Engine yang mendukung proses analisis dan penalaran, hingga sistem keamanan dan tata kelola data tingkat perusahaan.
Microsoft juga mulai menyediakan versi gratis Microsoft Discovery yang dapat digunakan secara lokal melalui akun GitHub Copilot. Saat ini layanan tersebut masih berada dalam tahap early preview atau pratinjau awal.
Langkah ini menunjukkan ambisi Microsoft untuk membawa AI agen tidak hanya ke laboratorium penelitian internal, tetapi juga ke berbagai sektor industri yang membutuhkan inovasi berbasis sains dan teknologi.
Menuju Era Baru Komputasi Kuantum
Meskipun Microsoft kini menargetkan komputer kuantum komersial hadir pada 2029, para pengamat menilai bahwa perjalanan menuju tujuan tersebut masih penuh tantangan. Industri komputasi kuantum memiliki sejarah target yang sering kali berubah karena kompleksitas teknologi yang sangat tinggi.
Selain itu, klaim peningkatan keandalan hingga 1.000 kali lipat yang disampaikan Microsoft merujuk pada perbandingan dengan generasi pertama Majorana, bukan dengan teknologi kuantum milik pesaing seperti IBM maupun Google yang menggunakan pendekatan arsitektur berbeda.
Meski demikian, kemajuan yang ditunjukkan Majorana 2 tetap menjadi pencapaian penting. Peneliti Microsoft, Chetan Nayak, menegaskan bahwa jika dibandingkan dengan kondisi setahun lalu, teknologi yang dikembangkan timnya kini telah meningkat hingga 1.000 kali lebih baik.
Peluncuran Majorana 2 pada akhirnya bukan hanya tentang chip kuantum yang lebih canggih. Lebih dari itu, inovasi ini menunjukkan bagaimana kolaborasi antara ilmuwan dan AI agen dapat mempercepat proses penemuan ilmiah, membuka peluang baru bagi dunia komputasi kuantum, serta membawa teknologi masa depan semakin dekat dengan kenyataan.
