Oracle Gandeng Quantinuum Hadirkan Komputasi Kuantum di Cloud
- Rita Puspita Sari
- •
- 13 jam yang lalu
Ilustrasi Cloud Computing
Quantinuum dan Oracle memperkuat kerja sama di bidang komputasi kuantum dengan menghadirkan komputer kuantum Helios ke dalam infrastruktur Oracle Cloud Infrastructure (OCI). Kolaborasi ini ditujukan untuk membuka akses yang lebih praktis terhadap komputasi kuantum sekaligus menggabungkannya dengan artificial intelligence (AI), high-performance computing (HPC), GPU, dan infrastruktur cloud.
Melalui kemitraan strategis jangka panjang tersebut, pelanggan Oracle nantinya dapat mengakses Helios melalui layanan kuantum OCI tanpa harus membeli atau mengoperasikan perangkat keras komputer kuantum secara mandiri. Sistem ini akan ditempatkan di pusat data OCI AI milik Oracle di Amerika Serikat.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya kedua perusahaan mendorong penggunaan komputasi kuantum untuk kebutuhan dunia nyata, khususnya ketika perusahaan menghadapi persoalan komputasi yang semakin kompleks.
Helios Masuk ke Infrastruktur Oracle Cloud
Quantinuum, perusahaan komputasi kuantum yang tercatat di Nasdaq dengan kode saham QNT, bersama Oracle mengumumkan kemitraan untuk membawa teknologi komputasi kuantum ke OCI.
Dalam kerja sama ini, Helios akan tersedia bagi pelanggan OCI melalui layanan kuantum Oracle. Komputer kuantum tersebut nantinya dapat digunakan berdampingan dengan infrastruktur HPC dan GPU yang sudah tersedia di OCI.
Pendekatan tersebut memungkinkan pelanggan mengombinasikan kemampuan komputasi klasik dan kuantum sesuai kebutuhan. Dengan kata lain, tidak semua pekerjaan harus dijalankan menggunakan komputer kuantum. Beban kerja tertentu tetap dapat diproses menggunakan CPU, GPU, atau sistem HPC, sementara persoalan yang sesuai dapat dialihkan ke quantum processing unit (QPU).
Model hybrid semacam ini dinilai penting karena teknologi kuantum saat ini belum ditujukan untuk menggantikan komputer klasik secara keseluruhan. Sebaliknya, komputasi kuantum diharapkan menjadi akselerator tambahan untuk menyelesaikan jenis persoalan tertentu yang sangat kompleks.
“Kami percaya tahap berikutnya dari komputasi perusahaan akan dibentuk oleh penggabungan komputasi kuantum, AI, dan high-performance computing,” kata Dr. Rajeeb Hazra, President dan CEO Quantinuum.
Menurut Hazra, penempatan Helios di dalam OCI memberikan peluang bagi kedua perusahaan untuk membangun lingkungan komputasi hybrid yang terintegrasi. Lingkungan tersebut juga dapat digunakan untuk mengeksplorasi berbagai kasus penggunaan bersama pelanggan dan mempercepat adopsi komputasi kuantum secara komersial.
Bidik Beragam Sektor Industri
Kemitraan Quantinuum dan Oracle tidak hanya ditujukan untuk perusahaan teknologi. Kedua perusahaan melihat peluang penggunaan komputasi hybrid quantum-AI di berbagai bidang.
Beberapa di antaranya mencakup penemuan obat, ilmu material, pemodelan keuangan, logistik, energi, hingga persoalan optimasi berskala besar. Dalam industri farmasi, misalnya, komputasi kuantum berpotensi membantu peneliti memodelkan interaksi molekul yang kompleks. Pada ilmu material, teknologi ini dapat digunakan untuk mengeksplorasi karakteristik material baru.
Sementara itu, sektor keuangan dapat memanfaatkan kemampuan komputasi untuk menghadapi persoalan pemodelan dan optimasi yang melibatkan jumlah variabel sangat besar.
Kebutuhan tersebut semakin relevan karena perkembangan AI membuat organisasi menjalankan beban kerja komputasi yang semakin berat. Pengembangan model AI, analisis data dalam jumlah besar, simulasi, dan berbagai proses optimasi membutuhkan infrastruktur komputasi berperforma tinggi.
Oracle dan Quantinuum melihat perpaduan AI, HPC, dan komputasi kuantum sebagai salah satu pendekatan untuk menghadapi tantangan tersebut.
Konsumsi Energi Menjadi Pertimbangan
Selain kemampuan menyelesaikan persoalan tertentu, komputasi kuantum juga menawarkan potensi efisiensi energi. Quantinuum menyebut satu sistem Helios diperkirakan memiliki kebutuhan daya kurang dari 1 persen dibandingkan konsumsi daya yang dilaporkan sejumlah superkomputer terkemuka.
Namun, angka tersebut tidak berarti komputer kuantum dapat menggantikan superkomputer dalam seluruh jenis pekerjaan. Efisiensi tersebut lebih relevan untuk jenis persoalan dan skenario hybrid tertentu yang memang sesuai dikerjakan menggunakan sistem kuantum.
Mahesh Thiagarajan, Executive Vice President Oracle Cloud Infrastructure, mengatakan AI telah memperluas kemampuan organisasi dalam memecahkan persoalan komputasi. Menurutnya, komputasi kuantum berpotensi memperluas lagi jenis masalah yang dapat ditangani.
“Dengan menghadirkan Helios dari Quantinuum ke Oracle Cloud Infrastructure, kami ingin memberikan cara yang praktis dan aman bagi para pengembang untuk mengeksplorasi bagaimana komputasi kuantum dapat melengkapi beban kerja AI dan HPC,” kata Thiagarajan.
Integrasi tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan kemampuan komputasi, tetapi juga membantu organisasi mengevaluasi penggunaan sumber daya dan energi secara lebih efisien.
Pelanggan Tak Perlu Membeli Perangkat Keras Kuantum
Salah satu aspek penting dari kemitraan ini adalah model akses berbasis cloud. Pelanggan OCI nantinya tidak perlu membeli komputer kuantum, membangun fasilitas khusus, atau memiliki tim yang secara khusus mengoperasikan perangkat keras tersebut.
Sebagai gantinya, mereka dapat memperoleh akses terkelola ke Helios melalui layanan kuantum OCI. Pendekatan ini diharapkan menurunkan hambatan bagi perusahaan, universitas, dan lembaga penelitian yang ingin mulai bereksperimen dengan komputasi kuantum.
Helios sendiri telah diluncurkan secara komersial pada November 2025 dan menjadi komputer kuantum generasi ketiga milik Quantinuum. Sistem tersebut menggunakan 98 physical qubit berbasis teknologi trapped-ion. Dalam sejumlah demonstrasi, Helios telah digunakan untuk menangani hingga 48 logical qubit.
Salah satu keunggulan yang ditonjolkan Quantinuum adalah tingkat akurasinya. Helios mencapai rata-rata two-qubit gate fidelity sebesar 99,921 persen. Angka tersebut melampaui ambang batas 99,9 persen yang kerap disebut sebagai “three 9s” dalam pembahasan mengenai akurasi sistem kuantum.
Semakin tinggi tingkat fidelitas gerbang kuantum, semakin kecil kemungkinan terjadi kesalahan ketika operasi kuantum dijalankan. Faktor tersebut menjadi sangat penting karena kesalahan merupakan salah satu tantangan utama dalam pengembangan komputer kuantum yang dapat digunakan untuk aplikasi praktis.
Terintegrasi dengan Layanan OCI
Helios akan ditempatkan secara on-premises di dalam infrastruktur OCI. Dengan konfigurasi tersebut, komputer kuantum diharapkan dapat terhubung dengan layanan Oracle yang sudah digunakan pelanggan. Integrasi tersebut mencakup sumber daya komputasi, jaringan, penyimpanan, identitas, dan layanan data. Sistem juga diharapkan berada di bawah tata kelola serta kontrol akses yang sama dengan lingkungan OCI pelanggan.
Bagi perusahaan, model ini dapat menyederhanakan pengelolaan karena sumber daya kuantum tidak berdiri sendiri di luar ekosistem TI yang sudah digunakan.
Oracle juga berencana menghadirkan preview layanan kuantum OCI dalam beberapa bulan mendatang. Layanan ini dirancang untuk membantu pengembang berpindah dari tahap simulasi menuju eksekusi langsung pada perangkat keras komputer kuantum. Layanan tersebut juga direncanakan menggabungkan development stack Quantinuum dengan dukungan terhadap framework pemrograman hybrid open source.
Dengan demikian, pengembang dapat membangun, menguji, dan menyempurnakan aplikasi yang menggabungkan sistem kuantum dan komputasi klasik dalam satu lingkungan yang lebih terintegrasi.
Dorong Hybrid Quantum-AI
Kerja sama ini pada akhirnya bukan sekadar menghadirkan komputer kuantum ke cloud. Fokus yang lebih besar adalah menciptakan ekosistem komputasi hybrid yang menggabungkan CPU, GPU, HPC, AI, dan QPU. Johannes Blaschke, Head of Scientific Computing, GBI di Ellison Institute of Technology, mengatakan pihaknya tengah mengeksplorasi komputasi hybrid klasik-kuantum untuk mempercepat penemuan ilmiah.
Menurut Blaschke, QPU memiliki karakteristik yang sangat berbeda dibandingkan perangkat keras komputasi yang selama ini digunakan. Karena itu, menggabungkan GPU dan QPU dalam satu platform dapat membantu peneliti mencoba pendekatan baru dengan lebih cepat.
Ketersediaan kedua jenis akselerator dalam OCI juga dinilai dapat menyederhanakan pengoperasian perangkat keras baru. Peneliti dapat lebih fokus pada pengembangan inovasi daripada mengelola kompleksitas infrastruktur. Jika implementasinya berjalan sesuai rencana, pendekatan ini dapat memperpendek proses dari tahap eksperimen dan konsep hingga penerapan pada sistem komputasi nyata.
Hambatan Adopsi Kuantum Mulai Dipangkas
Heather West, PhD, Global Quantum Research Lead di IDC, menilai kemudahan akses menjadi semakin penting ketika komputasi kuantum mulai mendekati tahap adopsi perusahaan. Menurutnya, kemajuan perangkat keras saja tidak cukup. Organisasi juga membutuhkan cara sederhana untuk mengintegrasikan sumber daya kuantum dengan sistem TI yang sudah digunakan.
Penempatan sistem kuantum dalam lingkungan private cloud dapat membantu organisasi menghubungkan teknologi tersebut dengan workflow AI dan HPC melalui infrastruktur cloud serta perangkat pengembangan yang sudah familiar.
Model tersebut berpotensi mengurangi hambatan adopsi sekaligus menjadikan komputasi hybrid quantum-classical sebagai bagian yang lebih praktis dari infrastruktur TI perusahaan.
Menatap Masa Depan Komputasi Perusahaan
Kemitraan Quantinuum dan Oracle menunjukkan bahwa arah perkembangan komputasi kuantum mulai bergeser dari sekadar eksperimen menuju integrasi dengan infrastruktur komputasi yang digunakan perusahaan. AI, GPU, HPC, dan komputasi kuantum tidak harus dipandang sebagai teknologi yang saling menggantikan. Masing-masing dapat memiliki fungsi berbeda dan bekerja bersama untuk menyelesaikan persoalan tertentu.
Dalam skenario tersebut, AI dapat digunakan untuk analisis dan pengambilan keputusan, GPU menangani komputasi paralel, HPC menjalankan simulasi berskala besar, sementara QPU digunakan untuk persoalan tertentu yang berpotensi mendapatkan keuntungan dari pendekatan kuantum.
Bagi Quantinuum, membawa Helios ke OCI menjadi langkah untuk memperluas akses terhadap teknologi kuantum. Bagi Oracle, integrasi tersebut memperkuat ambisi perusahaan untuk menyediakan infrastruktur cloud yang mampu menangani generasi baru beban kerja AI dan komputasi berperforma tinggi.
Jika layanan kuantum OCI dapat diwujudkan sesuai rencana, perusahaan, pengembang, universitas, dan lembaga penelitian akan memiliki jalur yang lebih mudah untuk bereksperimen dengan komputer kuantum tanpa harus membangun infrastruktur sendiri.
Langkah ini sekaligus menunjukkan bahwa masa depan komputasi kemungkinan tidak hanya ditentukan oleh seberapa kuat sebuah komputer bekerja secara individual, tetapi juga oleh kemampuan berbagai arsitektur komputasi untuk bekerja bersama. Perpaduan AI, HPC, GPU, dan QPU menjadi salah satu pendekatan yang kini mulai dipersiapkan untuk menghadapi persoalan komputasi yang semakin kompleks.
