PQC Jadi Standar Baru, Kapan Organisasi Harus Mulai Bermigrasi?


Ilustrasi Target Migrasi PQC

Ilustrasi Target Migrasi PQC

Bayangkan sebuah brankas digital yang saat ini dianggap sangat aman. Data di dalamnya telah dilindungi algoritma enkripsi yang membutuhkan waktu sangat lama untuk dibobol menggunakan komputer biasa. Namun, beberapa tahun mendatang muncul komputer dengan kemampuan komputasi yang jauh lebih besar dan mampu memecahkan sistem kriptografi tersebut.

Situasi inilah yang menjadi salah satu kekhawatiran terbesar di dunia keamanan siber ketika teknologi komputer kuantum terus berkembang.

Komputer kuantum memang belum berada pada tahap yang secara luas mampu membobol sistem enkripsi modern. Namun, pemerintah, perusahaan teknologi, lembaga keuangan, operator infrastruktur penting, hingga komunitas blockchain mulai bersiap menghadapi kemungkinan tersebut.

Solusinya dikenal sebagai Post-Quantum Cryptography (PQC) atau kriptografi pasca-kuantum. Teknologi ini dirancang untuk melindungi informasi dari serangan komputer biasa sekaligus komputer kuantum.

Persoalannya, mengganti sistem kriptografi yang telah digunakan selama puluhan tahun bukan pekerjaan sederhana. Organisasi harus mengetahui algoritma apa saja yang digunakan, di mana algoritma tersebut berada, sistem mana yang paling berisiko, perangkat apa yang harus diganti, serta bagaimana memastikan seluruh proses migrasi tidak mengganggu layanan.

Karena itu, pertanyaan yang kini muncul bukan lagi apakah organisasi perlu mempersiapkan PQC, tetapi kapan migrasi harus dimulai?

Jawabannya mulai terlihat dari berbagai peta jalan yang diterbitkan organisasi besar. Tenggat yang muncul memang berbeda-beda, tetapi sebagian besar berada dalam rentang 2027 hingga 2035. Bahkan sejumlah perusahaan teknologi besar menetapkan target lebih agresif, yakni sekitar 2029.

 

Apa Itu Post-Quantum Cryptography?

Sebelum membahas jadwal migrasi, penting memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan Post-Quantum Cryptography. Kriptografi merupakan teknologi yang digunakan untuk melindungi informasi dengan cara mengubah data menjadi bentuk yang tidak mudah dibaca oleh pihak yang tidak berwenang. Teknologi ini digunakan hampir di seluruh layanan digital, mulai dari transaksi perbankan, komunikasi, layanan cloud, situs web, aplikasi, hingga sistem pemerintahan.

Saat ini, banyak sistem keamanan digital menggunakan algoritma seperti RSA dan Elliptic Curve Cryptography (ECC). Keduanya telah digunakan secara luas karena dianggap sangat sulit dipecahkan dengan komputer konvensional. Masalah muncul ketika komputer kuantum yang cukup kuat berhasil dikembangkan.

Komputer kuantum bekerja dengan prinsip yang berbeda dari komputer klasik. Dengan memanfaatkan fenomena mekanika kuantum, komputer ini berpotensi menyelesaikan jenis persoalan tertentu jauh lebih cepat.

Salah satu ancaman terbesar berasal dari algoritma Shor. Secara sederhana, algoritma tersebut secara teori dapat digunakan komputer kuantum untuk memecahkan masalah matematika yang menjadi dasar keamanan RSA dan ECC.

Jika komputer kuantum dengan kemampuan yang relevan secara kriptografis berhasil diwujudkan, sistem enkripsi yang saat ini dianggap aman dapat menghadapi ancaman serius. PQC hadir untuk mengatasi masalah tersebut. Algoritma PQC dirancang berdasarkan masalah matematika yang diyakini sulit diselesaikan baik oleh komputer konvensional maupun komputer kuantum.

Dengan demikian, organisasi tidak perlu menunggu komputer kuantum benar-benar mampu menyerang sistem mereka untuk mulai melakukan migrasi.

 

Ancaman "Harvest Now, Decrypt Later"

Ada alasan lain mengapa migrasi PQC perlu dilakukan lebih awal. Ancaman komputer kuantum tidak selalu berarti penyerang harus menunggu komputer kuantum tersedia. Salah satu skenario yang menjadi perhatian keamanan siber adalah harvest now, decrypt later atau "panen sekarang, dekripsi nanti".

Dalam skenario ini, penyerang dapat mengambil dan menyimpan data yang saat ini masih terenkripsi. Data tersebut mungkin belum dapat dibaca karena algoritma enkripsinya terlalu kuat untuk komputer yang tersedia saat ini.

Namun, ketika komputer kuantum yang cukup kuat tersedia, data lama tersebut berpotensi didekripsi. Risiko ini sangat penting bagi organisasi yang menyimpan informasi sensitif dalam jangka panjang. Misalnya, data kesehatan, dokumen pemerintahan, rahasia perusahaan, informasi pertahanan, transaksi keuangan, hingga komunikasi strategis.

Artinya, keamanan data tidak hanya perlu mempertimbangkan serangan yang terjadi hari ini. Organisasi juga harus mempertimbangkan apakah data yang dicuri sekarang masih harus dirahasiakan 10 atau 20 tahun mendatang. 

Inilah salah satu alasan mengapa migrasi PQC membutuhkan waktu panjang dan harus dimulai jauh sebelum komputer kuantum mencapai kemampuan penuh.

 

Pemerintah Mulai Menetapkan Tenggat

Pemerintah menjadi salah satu pihak yang paling aktif menetapkan jadwal migrasi.

Di Amerika Serikat, NIST IR 8547 menjadi salah satu dokumen penting dalam perencanaan transisi menuju kriptografi pasca-kuantum. Kerangka tersebut mengarahkan agar algoritma seperti RSA-2048 dan ECC-256 mulai ditinggalkan pada 2030 dan tidak lagi digunakan setelah 2035 dalam lingkungan yang masuk cakupan kebijakan.

NIST juga telah memfinalisasi sejumlah standar PQC yang menjadi fondasi migrasi. Di antaranya adalah ML-KEM (FIPS 203), ML-DSA (FIPS 204), dan SLH-DSA (FIPS 205).

Secara sederhana, standar-standar tersebut memberikan pilihan algoritma baru untuk menggantikan fungsi kriptografi yang selama ini mengandalkan sistem yang berpotensi rentan terhadap komputer kuantum.

Amerika Serikat juga memiliki persyaratan melalui CNSA 2.0. Untuk pengadaan baru yang digunakan dalam National Security Systems, dukungan terhadap kriptografi tahan-kuantum diwajibkan mulai 1 Januari 2027.

Target berikutnya semakin ketat. Tanda tangan perangkat lunak dan firmware ditargetkan menggunakan Quantum-resistant algorithm pada 2030. Sistem yang tidak dapat diperbarui harus dipensiunkan.

Pada 2033, Quantum-safe encryption ditargetkan menjadi standar eksklusif untuk web, cloud, dan sistem operasi. Sementara itu, transisi penuh terhadap infrastruktur yang tahan terhadap serangan kuantum ditargetkan selesai pada 2035.

Tenggat tersebut penting bukan hanya bagi lembaga pemerintah. Organisasi swasta yang menjadi pemasok, kontraktor, atau pengelola data pemerintah juga dapat terdampak oleh perubahan persyaratan tersebut.

 

Uni Eropa dan Inggris Mengambil Langkah Serupa

Bukan hanya Amerika Serikat yang bergerak.

Di Eropa, kerangka yang diterbitkan NIS Cooperation Group pada Juni 2025 mendorong negara-negara anggota untuk mulai menyusun strategi PQC nasional dan melakukan inventarisasi penggunaan kriptografi. Tahap awal inventarisasi ditargetkan selesai pada akhir 2026.

Untuk infrastruktur penting dengan penggunaan berisiko tinggi, migrasi ditargetkan selesai pada 2030. Sementara itu, penggunaan dengan tingkat risiko menengah ditargetkan bermigrasi pada 2035. Inggris juga menetapkan tahapan yang hampir serupa melalui UK NCSC. Organisasi tersebut menargetkan inventarisasi kriptografi pada 2028, migrasi sistem dengan prioritas tinggi pada 2031, dan transisi penuh pada 2035.

Pola ini menunjukkan satu hal penting: pemerintah tidak menunggu sampai komputer kuantum benar-benar tersedia. Mereka justru menganggap migrasi sebagai proses jangka panjang yang harus dilakukan bertahap.

 

Sektor Keuangan Mulai Membuat Peta Jalan

Sektor keuangan termasuk salah satu bidang yang paling berkepentingan terhadap PQC. Bank dan perusahaan finansial mengelola data yang sangat sensitif. Selain itu, sebagian data harus disimpan dalam jangka panjang dan dilindungi dari akses pihak yang tidak berwenang.

Pada Januari 2026, G7 Cyber Expert Group menerbitkan peta jalan untuk kesiapan sektor keuangan menghadapi ancaman kuantum. Periode 2026-2027 digunakan untuk meningkatkan kesadaran, menyusun strategi, dan melakukan perencanaan awal. Setelah itu, organisasi mulai melakukan penemuan serta inventarisasi aset kriptografi pada 2027-2028.

Tahap berikutnya adalah penilaian risiko dan penyusunan rencana migrasi khusus pada 2028-2029. Migrasi sistem kritis kemudian ditargetkan berlangsung pada 2030-2032. Pengujian dilanjutkan hingga 2034, sementara validasi penuh dimulai pada 2035.

Jadwal tersebut menunjukkan bahwa migrasi bukan sekadar mengganti satu algoritma dengan algoritma lain. Organisasi harus melakukan pemetaan aset terlebih dahulu agar mengetahui sistem mana yang menggunakan kriptografi lama.

 

Mengapa Inventarisasi Kriptografi Sangat Penting?

Salah satu tantangan terbesar dalam migrasi PQC adalah organisasi sering kali tidak mengetahui secara lengkap di mana kriptografi digunakan. Sebuah perusahaan besar mungkin memiliki ribuan server, aplikasi, perangkat jaringan, perangkat IoT, sistem cloud, perangkat lunak lama, hingga sistem yang dikembangkan oleh vendor pihak ketiga.

Sebagian sistem tersebut mungkin menggunakan RSA. Sistem lainnya menggunakan ECC. Ada pula perangkat yang menggunakan algoritma kriptografi di dalam firmware dan tidak mudah diperbarui. Karena itu, langkah awal migrasi bukan langsung mengganti algoritma.

Organisasi harus melakukan cryptographic inventory, yakni membuat daftar seluruh aset, aplikasi, perangkat, sertifikat, protokol, algoritma, dan kunci kriptografi yang digunakan. Setelah mengetahui peta tersebut, organisasi dapat menentukan sistem mana yang harus diprioritaskan.

Sistem yang menangani data sangat sensitif dan memiliki masa hidup panjang tentu perlu mendapatkan perhatian lebih cepat dibandingkan sistem yang tidak kritis.

 

Mengapa Google dan Cloudflare Menargetkan 2029?

Menariknya, perusahaan teknologi besar justru menetapkan target lebih cepat dibandingkan tenggat pemerintah. Google pada Maret 2026 mengumumkan target menyelesaikan migrasi PQC pada 2029. Google menyebut perkembangan perangkat keras kuantum, teknologi koreksi kesalahan, serta perubahan perkiraan kebutuhan sumber daya untuk menyerang sistem kriptografi sebagai alasan di balik percepatan tersebut.

Keputusan Google penting karena perusahaan tersebut tidak hanya menggunakan teknologi kuantum, tetapi juga memiliki program penelitian komputer kuantum sendiri. Artinya, perusahaan memiliki akses langsung terhadap perkembangan teknologi yang berpotensi menjadi ancaman.

Cloudflare kemudian mengikuti dengan target yang sama, yakni 2029 untuk Post-Quantum Cryptography secara penuh. Bagi Cloudflare, migrasi bukan hanya soal enkripsi. Perusahaan juga harus mengubah sistem autentikasi. Hal tersebut penting karena autentikasi pasca-kuantum dapat lebih rumit untuk dimigrasikan dibandingkan enkripsi biasa.

Cloudflare bahkan telah menerapkan perlindungan pasca-kuantum pada sebagian besar lalu lintas manusia yang melewati jaringannya. Pergerakan Google dan Cloudflare memperlihatkan bahwa perusahaan teknologi besar tidak ingin menunggu hingga batas waktu regulasi tiba.

 

Microsoft Memilih Pendekatan Bertahap

Microsoft memiliki target yang sedikit lebih panjang. Melalui Quantum Safe Program, perusahaan menargetkan transisi penuh pada 2033. Namun, bukan berarti Microsoft baru akan mulai bergerak pada tahun tersebut. Adopsi awal ditargetkan pada 2029. Microsoft kemudian melakukan migrasi secara bertahap terhadap komponen infrastrukturnya.

Tahap awal mencakup integrasi ML-KEM dan ML-DSA ke dalam SymCrypt, pustaka kriptografi inti yang digunakan dalam Windows dan Azure. Setelah itu, migrasi diperluas ke layanan infrastruktur seperti autentikasi identitas dan pengelolaan kunci. Tahap akhir mencakup Windows, Azure, Microsoft 365, layanan data, serta layanan AI.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa perusahaan dengan ekosistem teknologi besar tidak dapat melakukan migrasi secara instan. Perubahan harus dilakukan sedikit demi sedikit agar tidak mengganggu jutaan pengguna dan layanan yang saling terhubung.

 

Apple Sudah Memulai Lebih Dulu

Apple termasuk perusahaan yang mengambil langkah lebih awal. Pada awal 2024, Apple menerapkan kriptografi pasca-kuantum melalui protokol PQ3 untuk iMessage. PQ3 dirancang untuk melindungi proses pertukaran kunci awal sekaligus kunci yang digunakan selama komunikasi berlangsung.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa migrasi PQC tidak selalu harus menunggu adanya tenggat regulasi. Perusahaan dapat mulai mengadopsinya ketika teknologi sudah tersedia dan risiko dianggap cukup penting untuk ditangani. Amazon Web Services juga menyediakan berbagai opsi keamanan yang berkaitan dengan ancaman kuantum, termasuk dukungan pertukaran kunci pasca-kuantum dalam layanan dan pustaka tertentu.

Sementara itu, IBM lebih berfokus pada alat yang membantu perusahaan melakukan inventarisasi dan migrasi. Platform IBM Quantum Safe menyediakan Quantum Safe Explorer untuk membantu menemukan penggunaan kriptografi dalam lingkungan perusahaan.

Pendekatan ini penting karena tantangan migrasi sering kali bukan menemukan algoritma baru, melainkan mengetahui di mana algoritma lama digunakan.

 

Perusahaan Kuantum Juga Mempercepat Persiapan

Perusahaan yang mengembangkan komputer kuantum juga memberikan sinyal mengenai perkembangan teknologi tersebut. Quantinuum, misalnya, menyoroti demonstrasi pada Maret 2026 yang melibatkan 94 logical qubit terlindungi dari kesalahan. Logical qubit menjadi penting karena komputer kuantum praktis membutuhkan mekanisme koreksi kesalahan yang mampu menjaga informasi kuantum tetap stabil.

Sementara itu, PsiQuantum mengembangkan pendekatan komputer kuantum fotonik dan menargetkan komputer kuantum skala utilitas pada dekade ini. IBM melalui peta jalan kuantumnya menargetkan sistem Starling pada 2029. Sistem tersebut dirancang untuk menunjukkan kemampuan 200 logical qubit dan 100 juta gerbang kuantum.

Tentu, target perusahaan kuantum tidak otomatis berarti komputer yang mampu membobol RSA atau ECC akan tersedia tepat pada tahun tersebut. Perjalanan menuju komputer kuantum toleran terhadap kesalahan dalam skala besar masih menghadapi berbagai tantangan teknis.

Namun, perkembangan tersebut cukup untuk membuat organisasi mulai mempertimbangkan skenario terburuk.

 

Lembaga Keuangan Menghadapi Risiko Lebih Besar

Salah satu contoh menarik datang dari JPMorgan Chase. Bank tersebut telah mengembangkan Quantum-Secured Crypto-Agile Network (Q-CAN) yang menghubungkan dua pusat data di Singapura. Jaringan tersebut menggunakan kombinasi teknologi keamanan, termasuk Quantum Key Distribution atau QKD.

Strategi ini menunjukkan bahwa sektor keuangan tidak hanya mengandalkan satu pendekatan. PQC dan QKD dapat digunakan untuk menghadapi ancaman kuantum dengan karakteristik berbeda. SWIFT juga diperkirakan akan membuat SwiftNet 8.0 mendukung PQC pada 2027, sehingga lembaga keuangan yang terhubung ke jaringan tersebut harus mempersiapkan diri.

Selain itu, Hong Kong Monetary Authority pada Februari 2026 memperkenalkan Quantum Preparedness Index untuk mengukur kesiapan sektor perbankan. Singapura sebelumnya juga telah mengeluarkan panduan mengenai inventarisasi aset kriptografi dan penyusunan strategi migrasi.

Semua langkah tersebut menunjukkan bahwa sektor keuangan mulai melihat PQC sebagai bagian dari pengelolaan risiko, bukan sekadar eksperimen teknologi.

 

Infrastruktur Telekomunikasi dan Utilitas Punya Tantangan Berbeda

Jika bank menghadapi masalah kompleksitas sistem dan data, operator telekomunikasi serta utilitas memiliki masalah lain: umur perangkat keras yang panjang. Perangkat yang digunakan dalam jaringan telekomunikasi, pembangkit listrik, distribusi energi, air, dan infrastruktur penting lainnya dapat beroperasi selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun.

Mengganti perangkat tersebut bukan pekerjaan sederhana.

Selain biaya, penggantian perangkat dapat memerlukan penghentian sementara layanan, pengujian ulang, sertifikasi, serta penyesuaian dengan sistem lain. Masalah menjadi lebih kompleks pada lingkungan Operational Technology (OT). OT digunakan untuk mengendalikan proses fisik, seperti jaringan listrik, pengolahan air, manufaktur, dan sistem industri.

Tidak semua perangkat OT dapat diperbarui seperti komputer biasa. Karena itu, kemampuan crypto-agility menjadi sangat penting. Crypto-agility berarti kemampuan sistem untuk mengganti algoritma atau mekanisme kriptografi tanpa harus membangun ulang seluruh infrastruktur.

Organisasi yang memiliki crypto-agility lebih baik akan lebih mudah menghadapi perubahan standar keamanan di masa depan.

 

Blockchain Menghadapi Masalah yang Lebih Rumit

Blockchain memiliki tantangan unik karena tidak memiliki satu otoritas pusat yang dapat memerintahkan seluruh pengguna melakukan migrasi. Bitcoin menjadi contoh paling jelas. Proposal seperti BIP-360 dan BIP-361 mencoba menyiapkan mekanisme agar Bitcoin dapat menghadapi ancaman komputer kuantum.

Namun, proposal tersebut belum memperoleh konsensus penuh dari komunitas. Masalahnya bukan hanya teknis. Migrasi blockchain juga menyangkut tata kelola, kepemilikan aset, kompatibilitas perangkat lunak, serta keputusan jutaan pengguna.

Ethereum memiliki pendekatan yang relatif lebih terkoordinasi dan telah aktif membahas berbagai proposal terkait ketahanan terhadap komputer kuantum.

Namun, tantangan mendasar tetap sama: transaksi blockchain bersifat permanen. Pada sistem keuangan tradisional, sebuah organisasi dapat mengganti kunci kriptografi dan memperbarui sistem.

Blockchain publik tidak sesederhana itu. Riwayat transaksi tetap tersimpan. Jika suatu saat algoritma kriptografi yang melindunginya berhasil dipecahkan, informasi historis yang telah tersimpan dapat menghadapi risiko.

 

Mengapa 2029 Menjadi Tahun yang Menarik?

Jika seluruh peta jalan dibandingkan, terlihat rentang waktu antara 2027 hingga 2035. CNSA 2.0 mulai menetapkan persyaratan pada 2027. Google dan Cloudflare menargetkan 2029. Microsoft menargetkan adopsi awal pada 2029 dan transisi penuh pada 2033. NIST menetapkan tonggak penting pada 2030 dan 2035. Uni Eropa memiliki target 2030 dan 2035. Inggris juga mengarah pada 2031 dan 2035.

Dengan demikian, 2029 menjadi salah satu titik penting dalam peta migrasi PQC global.

Namun, 2029 tidak boleh dipahami sebagai tahun ketika komputer kuantum pasti mampu membobol seluruh enkripsi. Tahun tersebut lebih tepat dipandang sebagai target ketika sejumlah organisasi besar ingin sudah berada dalam tahap lanjut atau bahkan menyelesaikan migrasi mereka.

Perbedaan ini sangat penting. Organisasi tidak seharusnya menunggu hingga 2029 baru mulai melakukan inventarisasi. Jika sebuah perusahaan baru mengetahui pada 2029 bahwa ribuan perangkatnya menggunakan algoritma lama, kemungkinan besar proses migrasinya sudah terlambat.

 

Apa yang Harus Dilakukan Organisasi Sekarang?

Pelajaran paling penting dari seluruh peta jalan tersebut adalah bahwa migrasi PQC membutuhkan waktu. Langkah pertama adalah membuat inventarisasi kriptografi. Organisasi perlu mengetahui algoritma apa yang digunakan, perangkat mana yang menggunakannya, data apa yang dilindungi, siapa vendornya, dan berapa lama sistem tersebut akan digunakan.

Langkah kedua adalah menentukan prioritas. Tidak semua sistem harus dimigrasikan pada waktu yang sama. Sistem yang menangani data sensitif dan memiliki umur panjang harus menjadi prioritas.

Langkah ketiga adalah memastikan vendor memiliki strategi PQC. Organisasi perlu menanyakan apakah produk yang digunakan sudah mendukung algoritma pasca-kuantum, apakah firmware dapat diperbarui, dan apakah sistem memiliki kemampuan crypto-agility.

Langkah berikutnya adalah melakukan pengujian. Migrasi kriptografi dapat memengaruhi performa, kompatibilitas, ukuran sertifikat, protokol komunikasi, perangkat keras, hingga aplikasi lama. Karena itu, organisasi perlu menguji algoritma baru sebelum diterapkan dalam lingkungan produksi.

Yang tidak kalah penting adalah menyiapkan strategi migrasi secara bertahap. Organisasi tidak harus menunggu satu tanggal tertentu untuk mengganti seluruh sistem. Sebaliknya, migrasi dapat dilakukan berdasarkan tingkat risiko dan umur aset.

 

Jangan Menunggu Kepastian tentang Komputer Kuantum

Salah satu kesimpulan terpenting dari berbagai peta jalan tersebut adalah bahwa organisasi memang belum memiliki jawaban pasti mengenai kapan komputer kuantum yang relevan secara kriptografis akan tersedia. Perkiraannya masih beragam. Ada yang melihat ancaman signifikan dapat muncul pada awal 2030-an, sementara perkiraan lainnya lebih konservatif hingga pertengahan 2040-an.

Namun, ketidakpastian tersebut bukan alasan untuk menunda. Justru karena waktu kedatangannya tidak pasti, organisasi perlu mempersiapkan diri lebih awal. Jika komputer kuantum ternyata berkembang lebih lambat, organisasi tetap mendapatkan keuntungan karena infrastrukturnya menjadi lebih modern dan crypto-agile.

Sebaliknya, jika perkembangan komputer kuantum ternyata lebih cepat dari perkiraan, organisasi yang sudah memulai migrasi akan memiliki posisi jauh lebih aman. Inilah alasan mengapa perusahaan teknologi, pemerintah, sektor keuangan, dan operator infrastruktur penting mulai bergerak sekarang.

 

Migrasi PQC Bukan Lagi Sekadar Rencana Masa Depan

Perkembangan komputer kuantum telah mengubah cara organisasi melihat keamanan digital. Dulu, ancaman kuantum sering dianggap sebagai persoalan yang masih sangat jauh. Kini, pembahasannya telah berubah menjadi peta jalan, standar teknis, tenggat regulasi, pengembangan produk, hingga investasi infrastruktur.

Rentang waktu yang tersedia memang masih berbeda-beda. Pemerintah cenderung menetapkan batas hingga 2035, sedangkan sejumlah perusahaan teknologi memilih target lebih agresif pada 2029.

Namun, ada satu kesamaan yang cukup jelas: tidak ada alasan bagi organisasi untuk menunggu sampai komputer kuantum benar-benar mampu membobol enkripsi. Migrasi menuju kriptografi pasca-kuantum membutuhkan proses panjang, mulai dari inventarisasi, penilaian risiko, pemilihan algoritma, pengujian, pembaruan perangkat lunak dan perangkat keras, hingga validasi keamanan.

Karena itu, pertanyaan yang paling relevan bagi organisasi bukan lagi "kapan komputer kuantum akan memecahkan enkripsi?", melainkan "apakah organisasi sudah mengetahui sistem mana yang harus dilindungi ketika saat itu tiba?"

Jika jawabannya belum, maka waktu untuk mulai mempersiapkannya adalah sekarang.

Pada akhirnya, perbedaan prediksi mengenai kapan komputer kuantum akan mencapai kemampuan berbahaya tidak mengubah arah yang harus ditempuh. Organisasi yang paling siap adalah mereka yang menganggap PQC sebagai bagian dari pekerjaan infrastruktur dan keamanan jangka panjang, bukan proyek yang baru dimulai setelah ancaman tersebut benar-benar muncul.

Bagikan artikel ini

Komentar ()

Video Terkait