Komputer Kuantum Ancam Bitcoin, Seberapa Besar Risikonya?


Ilustrasi Bitcoin

Ilustrasi Bitcoin

Selama bertahun-tahun, pembahasan mengenai komputer kuantum lebih sering dikaitkan dengan ancaman terhadap sistem pertahanan negara, perbankan, hingga data kesehatan. Teknologi ini dipandang mampu mengubah cara manusia memecahkan persoalan yang selama ini sulit diselesaikan oleh komputer konvensional. Di satu sisi, komputer kuantum menjanjikan kemajuan besar dalam bidang sains, kecerdasan buatan, dan pengembangan obat. Namun di sisi lain, teknologi tersebut juga menimbulkan kekhawatiran baru, terutama terhadap sistem keamanan digital yang saat ini digunakan di seluruh dunia.

Salah satu bidang yang mulai menjadi perhatian adalah mata uang kripto atau cryptocurrency, seperti Bitcoin dan Ethereum. Selama ini banyak orang menganggap aset digital aman karena dilindungi oleh teknologi kriptografi yang sangat kuat. Akan tetapi, perkembangan penelitian komputer kuantum menunjukkan bahwa perlindungan tersebut mungkin tidak akan bertahan selamanya.

Makalah ilmiah yang diterbitkan Google Quantum AI pada Maret 2026 bersama para peneliti dari Ethereum Foundation dan Stanford University menjadi salah satu penelitian yang paling banyak dibahas. Penelitian tersebut tidak menyatakan bahwa Bitcoin dapat diretas saat ini, tetapi menunjukkan bahwa kebutuhan perangkat keras untuk menyerang sistem keamanan Bitcoin ternyata jauh lebih kecil dibandingkan perkiraan para ilmuwan beberapa tahun lalu.

Temuan ini menjadi pengingat bahwa komunitas aset digital harus mulai mempersiapkan diri menghadapi era komputasi kuantum.

 

Mengapa Bitcoin Bergantung pada Kriptografi?

Agar lebih mudah dipahami, bayangkan Bitcoin seperti sebuah brankas digital. Setiap pemilik Bitcoin memiliki dua buah kunci.

  • Pertama adalah kunci publik (public key), yang dapat diibaratkan sebagai nomor rekening. Kunci ini boleh diketahui siapa saja karena digunakan untuk menerima transaksi.
  • Kedua adalah kunci privat (private key), yaitu kunci rahasia yang hanya diketahui pemiliknya. Kunci inilah yang digunakan untuk membuktikan kepemilikan Bitcoin dan mengirim aset ke orang lain.

Hubungan antara kedua kunci tersebut dibangun menggunakan teknik matematika yang disebut Elliptic Curve Cryptography (ECC). Sistem ini didasarkan pada persoalan matematika bernama Elliptic Curve Discrete Logarithm Problem (ECDLP).

Bagi komputer biasa, menghitung kembali kunci privat hanya berdasarkan kunci publik merupakan pekerjaan yang hampir mustahil dilakukan. Bahkan jika seluruh komputer tercepat di dunia bekerja bersama-sama, waktu yang dibutuhkan untuk menebaknya diperkirakan jauh melebihi usia alam semesta.

Inilah alasan mengapa Bitcoin selama ini dianggap sangat aman.

 

Apa yang Berubah dengan Kehadiran Komputer Kuantum?

Komputer konvensional bekerja menggunakan bit yang hanya memiliki dua kondisi, yaitu 0 atau 1.

Sementara itu, komputer kuantum menggunakan qubit, yaitu unit informasi yang dapat berada pada beberapa keadaan sekaligus berkat prinsip mekanika kuantum. Kemampuan tersebut memungkinkan komputer kuantum menyelesaikan jenis perhitungan tertentu jauh lebih cepat dibandingkan komputer biasa.

Pada tahun 1994, matematikawan Peter Shor memperkenalkan Algoritma Shor, sebuah metode yang secara teori mampu memecahkan persoalan matematika yang menjadi dasar keamanan banyak sistem kriptografi modern, termasuk ECC yang digunakan Bitcoin.

Selama bertahun-tahun ancaman tersebut dianggap masih sangat jauh karena diperkirakan membutuhkan jutaan qubit fisik yang belum mungkin diwujudkan.

Namun, penelitian terbaru Google Quantum AI memberikan gambaran yang berbeda.

 

Temuan Penting dari Penelitian Google

Dalam penelitian tersebut, tim Google merancang dua sirkuit kuantum yang secara teori mampu menjalankan Algoritma Shor untuk menyerang kurva eliptik secp256k1, yaitu standar kriptografi yang digunakan Bitcoin dan Ethereum.

Hasilnya cukup mengejutkan.

Jika sebelumnya dibutuhkan jutaan qubit fisik, kini estimasi tersebut turun menjadi kurang dari 500.000 qubit fisik. Dengan kata lain, kebutuhan perangkat keras berkurang sekitar 20 kali lipat dibandingkan estimasi terbaik sebelumnya.

Penelitian juga memperkirakan bahwa apabila komputer kuantum superkonduktor berkecepatan tinggi berhasil dibangun di masa depan, proses memperoleh kunci privat Bitcoin dapat berlangsung hanya dalam waktu sekitar sembilan menit.

Meskipun demikian, penting dipahami bahwa angka tersebut masih merupakan simulasi ilmiah. Hingga saat ini belum ada komputer kuantum yang memiliki kemampuan sebesar itu.

Google juga tidak mempublikasikan rancangan sirkuit yang digunakan dalam penelitian. Sebagai gantinya, perusahaan hanya menerbitkan zero-knowledge proof, yaitu metode pembuktian yang menunjukkan hasil penelitian benar tanpa membuka detail teknis yang dapat disalahgunakan.

Langkah tersebut dilakukan agar penelitian meningkatkan kesadaran mengenai ancaman kuantum, bukan menjadi panduan bagi pelaku kejahatan siber.

 

Mengapa Angka 500.000 Qubit Lebih Penting daripada Sembilan Menit?

Banyak pemberitaan menyoroti bahwa Bitcoin dapat diretas dalam sembilan menit. Padahal, yang lebih penting adalah fakta bahwa kebutuhan perangkat keras terus menurun. Semakin sedikit qubit yang diperlukan, semakin dekat kemungkinan komputer kuantum mampu melakukan serangan nyata.

Artinya, para peneliti berhasil menemukan cara-cara baru untuk membuat algoritma kuantum menjadi lebih efisien.

Bahkan salah satu penulis penelitian, Justin Drake dari Ethereum Foundation, mengatakan masih banyak peluang optimasi yang belum ditemukan. Menurutnya, sebagian peningkatan yang diperoleh Google berasal dari pengamatan yang relatif sederhana. Ia juga menyebut bahwa kecerdasan buatan (AI) belum dimanfaatkan untuk mencari optimasi tambahan.

Hal tersebut menunjukkan bahwa estimasi kebutuhan perangkat keras masih mungkin turun lagi di masa mendatang.

 

Mengenal Serangan On-Spend

Sebagian besar pembahasan mengenai ancaman komputer kuantum menggunakan konsep "store now, decrypt later", yaitu data dienkripsi sekarang kemudian dibobol bertahun-tahun setelah komputer kuantum tersedia.

Namun Bitcoin menghadapi ancaman yang sedikit berbeda.

Ketika seseorang mengirim Bitcoin, transaksi tersebut tidak langsung masuk ke blockchain. Sebelum memperoleh konfirmasi, transaksi akan berada terlebih dahulu di mempool, yaitu tempat penampungan sementara. Proses ini biasanya berlangsung beberapa detik hingga beberapa menit.

Pada saat itulah kunci publik mulai terlihat oleh jaringan.

Jika suatu hari tersedia komputer kuantum yang cukup kuat, penyerang dapat memanfaatkan jeda waktu tersebut untuk menghitung kunci privat, membuat transaksi baru yang mengirim Bitcoin ke alamat miliknya, lalu memberikan biaya transaksi lebih tinggi agar diprioritaskan oleh penambang.

Jenis serangan ini dikenal sebagai on-spend attack.

Ancaman tersebut berbeda dengan pencurian data biasa karena berlangsung secara langsung ketika transaksi sedang diproses.

 

Berapa Banyak Bitcoin yang Berpotensi Terdampak?

Penelitian Google memperkirakan sekitar 6,9 juta Bitcoin, atau hampir sepertiga dari total Bitcoin yang beredar, berada pada dompet yang kunci publiknya sudah pernah terekspos di blockchain.

Kondisi tersebut terutama terjadi pada:

  • alamat Bitcoin generasi lama menggunakan Pay-to-Public-Key (P2PK);
  • dompet yang pernah mengirim Bitcoin sebelumnya;
  • sebagian alamat Taproot yang menggunakan mekanisme key-path spending.

Yang paling menarik perhatian adalah sekitar 1,7 juta Bitcoin yang berasal dari alamat P2PK awal, termasuk aset yang selama ini diyakini milik pencipta Bitcoin, Satoshi Nakamoto.

Sebaliknya, dompet yang menggunakan format Pay-to-Public-Key-Hash (P2PKH) dan belum pernah digunakan untuk mengirim Bitcoin memiliki tingkat risiko lebih rendah karena kunci publiknya belum pernah muncul di blockchain.

 

Tidak Hanya Bitcoin

Risiko komputer kuantum ternyata tidak hanya mengancam Bitcoin. Ethereum, Litecoin, Zcash, serta berbagai blockchain lain juga menggunakan bentuk kriptografi kurva eliptik.

Insinyur keamanan Conor Deegan menjelaskan bahwa jika sistem kriptografi tersebut berhasil dipecahkan satu kali, hasilnya dapat dimanfaatkan berkali-kali untuk menyerang berbagai protokol lain yang menggunakan fondasi matematika yang sama.

Karena itulah banyak ahli keamanan mulai mendorong pengembangan Post-Quantum Cryptography (PQC) sebagai pengganti algoritma yang digunakan saat ini.

 

Mengapa Solusinya Tidak Sederhana?

Berbeda dengan aplikasi biasa yang dapat diperbarui melalui pembaruan perangkat lunak, Bitcoin merupakan jaringan terdesentralisasi. Tidak ada satu perusahaan atau pemerintah yang dapat memutuskan perubahan aturan secara sepihak.

Seluruh perubahan harus memperoleh persetujuan dari komunitas, termasuk para pengembang, operator node, penambang, hingga penyedia layanan. Proses tersebut sering kali membutuhkan waktu bertahun-tahun. Karena itulah muncul berbagai usulan untuk menghadapi ancaman kuantum.

Proposal BIP-360 menawarkan mekanisme baru bernama Pay-to-Merkle-Root (P2MR) yang bertujuan menyembunyikan kunci publik hingga saat transaksi dilakukan.

Sementara itu, BIP-361 mengusulkan langkah yang lebih drastis, yaitu migrasi bertahap menuju alamat yang tahan terhadap serangan kuantum dan menghentikan penggunaan alamat lama yang rentan.

Usulan tersebut memicu perdebatan panjang.

Sebagian anggota komunitas mendukung langkah tegas demi melindungi jaringan Bitcoin, sementara yang lain menganggap migrasi harus tetap bersifat sukarela dan tidak boleh memaksa pemilik aset.

 

Berbagai Solusi Baru Mulai Dikembangkan

Selain proposal perubahan protokol Bitcoin, berbagai perusahaan juga mulai mengembangkan solusi alternatif.

StarkWare memperkenalkan Quantum Safe Bitcoin (QSB) yang menggunakan tanda tangan digital berbasis hash sebagai pengganti tanda tangan berbasis kurva eliptik. Pendekatan ini tidak memerlukan perubahan besar pada jaringan Bitcoin, meskipun biaya komputasinya masih relatif tinggi.

Di sisi lain, Postquant Labs meluncurkan Quip Network, sebuah dompet Bitcoin Layer-2 yang memanfaatkan algoritma WOTS+ (Winternitz One-Time Signature). Teknologi tersebut diklaim mampu memperkecil peluang serangan on-spend tanpa perlu mengubah protokol inti Bitcoin.

Berbagai inovasi tersebut menunjukkan bahwa industri aset digital mulai bersiap menghadapi era komputer kuantum, meskipun implementasinya masih membutuhkan waktu.

 

Apa Dampaknya bagi Perusahaan?

Bagi perusahaan yang menyimpan aset kripto sebagai investasi, menyediakan layanan kustodian, atau mengoperasikan bursa aset digital, penelitian Google menjadi sinyal penting. Ancaman tidak lagi hanya berupa pencurian data yang terjadi bertahun-tahun kemudian, tetapi juga kemungkinan serangan saat transaksi sedang berlangsung.

Selain itu, blockchain memiliki karakteristik unik yang tidak dimiliki sistem keuangan tradisional.

Semua transaksi bersifat publik, permanen, dan tidak dapat diubah. Jika suatu saat algoritma kriptografi yang digunakan berhasil dipecahkan, seluruh riwayat transaksi yang tersimpan di blockchain tetap dapat dianalisis.

Hal ini berbeda dengan bank yang masih dapat mengganti kunci enkripsi secara berkala.

Karena itu, organisasi disarankan mulai menginventarisasi seluruh dompet aset digital yang dimiliki, mengidentifikasi alamat yang sudah mengekspos kunci publik, mengevaluasi proses transaksi, serta memastikan mitra kustodian dan penyedia layanan telah memiliki rencana migrasi menuju kriptografi pasca-kuantum.

 

Apakah Pengguna Bitcoin Harus Panik?

Jawabannya adalah tidak.

Penelitian Google tidak berarti Bitcoin dapat diretas hari ini. Komputer kuantum yang memiliki kemampuan menyerang Bitcoin seperti yang dijelaskan dalam penelitian tersebut masih belum tersedia.

Namun, hasil penelitian ini menjadi peringatan bahwa perkembangan teknologi kuantum berlangsung lebih cepat daripada perkiraan sebelumnya. Estimasi kebutuhan perangkat keras terus menurun, sementara para ilmuwan masih menemukan berbagai cara untuk membuat algoritma kuantum semakin efisien.

Karena itu, komunitas Bitcoin, pengembang blockchain, perusahaan teknologi, hingga lembaga standardisasi keamanan dunia kini semakin aktif menyiapkan teknologi kriptografi generasi baru yang dirancang tahan terhadap komputer kuantum.

Pada akhirnya, ancaman komputer kuantum bukan berarti masa depan Bitcoin telah berakhir. Sebaliknya, tantangan ini menjadi momentum bagi industri aset digital untuk berevolusi. Seperti halnya internet yang terus berkembang menghadapi berbagai ancaman siber selama puluhan tahun, ekosistem blockchain juga diperkirakan akan terus beradaptasi melalui inovasi kriptografi, pembaruan protokol, dan standar keamanan baru agar tetap mampu melindungi aset digital di era komputasi kuantum.

Bagikan artikel ini

Komentar ()

Video Terkait