Mengenal Atlas, Platform Komputer Kuantum untuk Kreator


Ilustrasi Komputer Kuantum untuk Kreator

Ilustrasi Komputer Kuantum untuk Kreator

Komputer kuantum selama ini identik dengan laboratorium penelitian, fisikawan, dan pemrograman yang rumit. Namun, perusahaan perangkat lunak kuantum Moth ingin mengubah pandangan tersebut melalui Atlas, sebuah platform yang memungkinkan pekerja kreatif memanfaatkan komputer kuantum untuk mengolah gambar dan mengembangkan karya digital tanpa harus memahami fisika atau menulis kode program.

Melalui Atlas, pengguna cukup memilih alat yang tersedia, mengatur sejumlah parameter, kemudian melihat perubahan hasilnya secara langsung. Pendekatan ini dirancang agar komputer kuantum lebih mudah diakses oleh desainer grafis, seniman digital, pengembang gim, hingga orang awam yang ingin bereksperimen dengan teknologi tersebut.

Dalam acara yang digelar di London, Moth membuka akses ke kantornya bagi masyarakat yang ingin mencoba komputer kuantum. Para pengunjung duduk di depan layar dan menggeser pengaturan untuk mengubah gambar. Mereka tidak perlu menjadi programmer atau memahami rangkaian kuantum untuk menghasilkan karya yang berbeda.

Menariknya, proses komputasi tidak sepenuhnya berlangsung pada komputer yang digunakan pengunjung. Setiap pekerjaan dikirim melalui internet ke prosesor kuantum sungguhan yang berada di fasilitas penyedia perangkat keras. Setelah perhitungan selesai, hasilnya dikirim kembali kepada pengguna dalam hitungan detik.

Komputer kuantum tersebut menggunakan chip yang didinginkan hingga suhunya mendekati nol mutlak. Chip ditempatkan di dalam perangkat pendingin berukuran besar untuk menjaga kondisi yang dibutuhkan agar sistem kuantum dapat beroperasi.

Moth juga menggelar hackathon yang berlangsung dalam beberapa sesi berdurasi tiga jam. Kegiatan ini mempertemukan fisikawan kuantum, pengembang gim, seniman, dan masyarakat umum untuk mencoba teknologi tersebut sekaligus mengembangkan berbagai proyek kreatif.

Perusahaan berharap pendekatan ini dapat memperluas penggunaan komputasi kuantum yang selama ini lebih banyak berkutat pada penelitian dan pengembangan teknologi.

 

Atlas Sederhanakan Penggunaan Komputer Kuantum

Atlas dikembangkan sebagai platform komputasi kuantum yang berorientasi pada kebutuhan kreatif. Sebelum diperkenalkan kepada masyarakat secara lebih luas, perangkat lunak ini telah menjalani pengujian dalam tahap closed alpha, yakni pengujian awal yang hanya melibatkan kelompok pengguna terbatas.

Untuk menjalankan berbagai eksperimen, Atlas memanfaatkan komputer kuantum dari penyedia seperti IBM dan IQM, perusahaan perangkat keras asal Finlandia. Kedua perusahaan tersebut telah menyediakan mesin kuantum yang digunakan oleh perusahaan maupun laboratorium penelitian.

Keunggulan utama Atlas terletak pada cara pengguna berinteraksi dengan teknologi tersebut. Platform ini tidak mengharuskan pengguna menyusun rangkaian kuantum secara manual, sebagaimana lazim dilakukan dalam pengembangan program kuantum.

Pada komputer biasa, informasi disimpan dalam bentuk bit yang memiliki nilai nol atau satu. Sementara itu, komputer kuantum menggunakan qubit yang dapat memanfaatkan fenomena superposisi, yaitu keadaan kuantum yang merepresentasikan kombinasi kemungkinan nol dan satu sebelum pengukuran dilakukan.

Komputer kuantum juga memanfaatkan keterikatan kuantum atau quantum entanglement, yang menghubungkan keadaan beberapa qubit sehingga tidak dapat dijelaskan secara terpisah satu sama lain.

Untuk memanfaatkan kedua fenomena tersebut, pengembang biasanya perlu memahami konsep fisika kuantum dan cara menyusun operasi pada qubit. Mereka menggunakan gerbang kuantum atau quantum gates untuk mengubah keadaan qubit, kemudian menyusun gerbang-gerbang tersebut menjadi rangkaian kuantum yang akan dijalankan oleh prosesor.

Perangkat dan bahasa pemrograman seperti IBM Quantum Composer, Qiskit, Cirq, dan Q# menyediakan berbagai fasilitas untuk pekerjaan tersebut. Namun, pengguna tetap perlu mempelajari konsep teknis yang cukup kompleks sebelum dapat mengembangkan aplikasi sendiri.

Bagi mahasiswa fisika dan peneliti, pendekatan tersebut merupakan bagian penting dari proses pembelajaran. Akan tetapi, bagi desainer grafis atau pengembang gim, mempelajari rangkaian kuantum sejak awal dapat menjadi hambatan untuk bereksperimen.

Atlas berupaya menghilangkan hambatan itu dengan menghadirkan alat siap pakai yang lebih familier bagi pekerja kreatif.

 

Pengguna Cukup Mengatur Gambar Seperti di Photoshop

Salah satu fitur Atlas yang menarik perhatian pengunjung adalah perangkat untuk memproses gambar. Pengguna cukup memilih alat yang diinginkan, menyesuaikan pengaturannya melalui kontrol sederhana, lalu mengamati perubahan pada gambar.

Cara kerjanya menyerupai penggunaan filter di Photoshop. Ketika mengedit foto, pengguna biasanya hanya perlu menggeser pengaturan untuk memperoleh tampilan yang diinginkan. Mereka tidak harus memahami seluruh proses matematika di balik filter tersebut.

Atlas menerapkan prinsip serupa pada komputer kuantum. Antarmukanya dirancang agar pengguna berfokus pada hasil kreatif, bukan pada kerumitan proses komputasi yang berlangsung di belakang layar.

Meski demikian, rangkaian kuantum tetap menjadi bagian penting dari sistem. Perangkat lunak yang disebut compiler menerjemahkan pilihan alat dan pengaturan pengguna menjadi urutan gerbang kuantum yang sesuai dengan prosesor yang digunakan.

Setelah diterjemahkan, pekerjaan dikirim ke prosesor kuantum untuk dijalankan. Hasilnya kemudian ditampilkan kembali melalui antarmuka Atlas.

Dengan cara ini, pengguna dapat memanfaatkan perangkat keras kuantum tanpa harus menulis kode atau memahami notasi mekanika kuantum sejak awal. Sasaran Atlas mencakup orang-orang yang terbiasa menggunakan perangkat lunak kreatif seperti Photoshop, After Effects, dan Ableton. Istilah serta kontrol yang tersedia dirancang mengikuti kebiasaan pengguna aplikasi tersebut.

Namun, penyederhanaan antarmuka ini juga memiliki konsekuensi. Pengguna memang lebih mudah mencoba teknologi kuantum, tetapi mereka tidak otomatis memahami bagaimana rangkaian kuantum menghasilkan keluaran tertentu.

Sejumlah pengunjung yang memiliki latar belakang teknis bahkan menginginkan akses lebih dalam untuk mempelajari proses tersebut.

Moth menyatakan bahwa penyederhanaan merupakan pilihan yang disengaja pada tahap awal. Seiring bertambahnya pengguna berpengalaman, perusahaan berencana memberikan lebih banyak pilihan kepada mereka yang ingin mengatur mesin atau algoritma yang digunakan.

Dengan demikian, Atlas berpotensi berkembang menjadi ruang eksperimen yang dapat melayani pengguna pemula maupun mereka yang ingin mengeksplorasi aspek teknis secara lebih mendalam.

 

Fitur Notebook Disiapkan untuk Berbagi Proyek

Selain menyederhanakan proses penggunaan, Moth juga berencana menghadirkan dukungan notebook untuk Atlas. Fitur ini memungkinkan pengguna mendokumentasikan pekerjaan, membagikan hasil, dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menjalankan kembali proyek yang sama.

Notebook merupakan format dokumen digital yang menggabungkan kode program, hasil eksekusi, dan penjelasan tertulis dalam satu tempat. Salah satu contoh yang populer adalah notebook dari proyek Jupyter. Melalui format tersebut, sebuah proyek tidak hanya tersimpan sebagai kode di laptop pembuatnya. Orang lain dapat membaca penjelasan, memahami proses pengerjaan, dan mencoba menjalankan kembali kode yang tersedia.

Dalam ekosistem Atlas, kemampuan ini berpotensi membantu para kreator berbagi alat yang mereka buat. Sebuah tim dalam hackathon, misalnya, dapat membagikan efek gambar kepada tim lain. Pengajar juga dapat memberikan contoh proyek kepada mahasiswa untuk dipelajari dan dikembangkan.

Bahkan, seseorang yang berada di negara lain dapat melanjutkan proyek yang sebelumnya dibuat oleh pengguna di London. Kemampuan berbagi tersebut penting karena dapat mengubah kumpulan demonstrasi teknologi menjadi platform yang berkembang melalui kontribusi banyak orang.

Notebook juga dapat membantu pengguna memahami proses kuantum yang biasanya tersembunyi. Mereka yang ingin mempelajari aspek teknis dapat melihat rangkaian gerbang kuantum yang dihasilkan oleh compiler sekaligus membandingkannya dengan hasil akhir.

Meski demikian, Moth belum menetapkan tanggal pasti untuk peluncuran fitur notebook. Perusahaan masih membahas sejumlah detail implementasinya. Jika berhasil diterapkan, fitur ini dapat memperluas manfaat Atlas, bukan hanya sebagai alat eksperimen visual, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran dan kolaborasi dalam pengembangan aplikasi kuantum.

 

Quantum Backrooms Jadi Contoh Pemanfaatan Teknologi

Atlas bukan satu-satunya proyek Moth yang mengutamakan pengalaman pengguna dibandingkan kerumitan teknis. Perusahaan tersebut sebelumnya telah merilis sejumlah proyek yang memperkenalkan komputer kuantum melalui pengalaman interaktif.

Salah satunya adalah Quantum Backrooms, gim gratis berbasis peramban yang diluncurkan pada akhir Mei. Gim tersebut menarik ribuan pemain pada hari pertama peluncurannya.

Dalam permainan ini, pengguna menjelajahi lorong-lorong tanpa akhir yang terus berubah. Struktur lorong dihasilkan secara langsung menggunakan perangkat keras kuantum dari IBM dan IQM. Setiap qubit mewakili bagian tertentu dari peta permainan. Sementara itu, hubungan fisik antarqubit menentukan jalur interaksi yang memengaruhi rute dalam labirin.

Pemain hanya melihat ruangan, pintu, dan lorong yang harus mereka lewati. Mereka tidak perlu mengetahui bahwa susunan lingkungan permainan tersebut mencerminkan karakteristik chip kuantum yang digunakan. Pendekatan ini memungkinkan teknologi kuantum diperkenalkan melalui pengalaman bermain gim yang lebih mudah dipahami masyarakat.

Quantum Backrooms dikembangkan dari proyek Moth sebelumnya, Space Moths. Peluncurannya juga dijadwalkan sehari sebelum film Backrooms produksi A24, yang disutradarai Kane Parsons dan menjadi inspirasinya, tayang di bioskop.

Menurut Moth, gim tersebut turut digunakan untuk memperkenalkan Atlas kepada khalayak yang lebih luas.

Pada 2025, perusahaan ini juga merilis sebuah lagu yang dibuat menggunakan perangkat untuk menghasilkan suara melalui komputer kuantum. Proyek tersebut mendapat masukan dari Profesor Eduardo Miranda, komposer sekaligus pelopor musik kuantum.

Moth menyebut pengembangannya mencakup sejumlah bidang kreatif lain, seperti gim imersif, dunia virtual, format audio baru, dan perangkat untuk menghasilkan gambar.

Berbagai proyek itu memperlihatkan strategi perusahaan dalam memperkenalkan komputasi kuantum melalui hasil yang dapat dinikmati langsung, tanpa mengharuskan pengguna memahami teknologi yang mendasarinya.

 

Didukung Pengalaman Peneliti dan Pelaku Industri Kuantum

Pengembangan Atlas melibatkan sejumlah tokoh yang memiliki pengalaman dalam komputasi kuantum. James Wootton, kepala ilmuwan Moth, sebelumnya menghabiskan beberapa tahun bekerja di IBM Quantum setelah melakukan penelitian di University of Basel.

Selama berkarier di IBM, ia membantu mengembangkan quantum procedural generation, yakni pemanfaatan keluaran chip kuantum untuk menghasilkan elemen visual dalam gim, termasuk lanskap dan tekstur. Ia juga mengembangkan Quantum Blur, sebuah alat yang memproses gambar melalui serangkaian operasi kuantum dan menghasilkan versi gambar yang berubah secara visual.

Wootton meraih gelar doktor dari University of Leeds dan telah menerbitkan lebih dari 40 makalah ilmiah yang ditinjau sejawat. Sebagian besar penelitiannya berkaitan dengan koreksi kesalahan kuantum, bidang yang berupaya melindungi qubit dari gangguan yang dapat merusak informasi.

Ia bergabung dengan Moth pada 2024. Atlas menjadi salah satu bentuk pengembangan komersial dari kegiatan pengenalan komputasi kuantum yang sebelumnya ia lakukan di IBM.

Tokoh lain yang berperan dalam perusahaan ini adalah Ilyas Khan, pendiri Cambridge Quantum pada 2014. Ia kemudian mengarahkan penggabungan perusahaan tersebut ke Quantinuum, yang kini menjadi salah satu perusahaan besar dalam industri komputasi kuantum.

Khan masih terlibat di Quantinuum dan memimpin proyek-proyek khusus. Di Moth, ia menjadi salah satu pendiri sekaligus ketua dewan non-eksekutif.

Bersama Harry Kumar, Khan mengembangkan gagasan bisnis Moth sebelum perusahaan tersebut resmi berdiri. Kumar kemudian menjabat sebagai salah satu pendiri dan kepala komersial perusahaan. Tim manajemen Moth juga mencakup Sean Harpur sebagai CEO, Spencer Topel sebagai CTO, dan Marco Stegmaier sebagai CFO. Rob Jesudason turut menjadi anggota dewan.

Secara keseluruhan, Moth memiliki sekitar dua lusin karyawan yang terdiri atas peneliti, insinyur kuantum, pemimpin studio, desainer produk, dan desainer grafis. Komposisi tim tersebut menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya mengandalkan keahlian teknis, tetapi juga melibatkan tenaga kreatif untuk mengembangkan produk yang lebih mudah digunakan masyarakat.

 

Moth Mengembangkan Perangkat Lunak, Bukan Membuat Chip

Moth didirikan di London pada 2022. Menurut PitchBook, perusahaan memperoleh pendanaan sekitar US$3,8 juta dari Grow London dan Serendipity Capital, perusahaan investasi asal Singapura yang terkait dengan Khan. Berbeda dari perusahaan yang mengembangkan prosesor kuantum, Moth tidak memiliki perangkat keras sendiri dan tidak berencana membangunnya.

Perusahaan memilih mengembangkan lapisan perangkat lunak yang memungkinkan pengguna mengakses komputer kuantum dari berbagai penyedia. Model ini membuat Moth dapat berfokus pada aplikasi dan pengalaman pengguna tanpa harus menanggung kebutuhan pengembangan perangkat keras yang kompleks.

Atlas memerlukan lapisan perangkat lunak tersebut karena setiap pekerjaan harus diterjemahkan agar sesuai dengan mesin yang tersedia. Sistem kemudian mengarahkan pekerjaan ke prosesor yang tepat. Pengguna tidak perlu menentukan sendiri detail perangkat keras yang menjalankan tugas mereka.

Pendekatan ini juga dapat menguntungkan perusahaan penyedia komputer kuantum, seperti IBM dan IQM, yang membutuhkan lebih banyak pelanggan untuk memanfaatkan mesin mereka.

Sebelumnya, Strangeworks, perusahaan asal Austin, Amerika Serikat, juga berupaya mengembangkan lapisan perangkat lunak yang memungkinkan berbagai komputer kuantum digunakan secara lebih fleksibel.

Namun, perusahaan tersebut memulai langkahnya ketika jumlah mesin yang tersedia masih terbatas dan kebutuhan pengguna terhadap sistem semacam itu belum berkembang luas. Moth memasuki pasar ketika sejumlah penyedia perangkat keras telah memiliki mesin yang dapat digunakan dan membutuhkan lebih banyak pekerjaan untuk dijalankan.

Dengan menawarkan aplikasi kreatif, Moth berupaya menciptakan permintaan baru dari kalangan seniman, studio, dan pengembang gim. Strategi ini berpotensi memberikan manfaat kepada berbagai penyedia perangkat keras tanpa mengharuskan Moth membangun fasilitas produksi sendiri.

Meski demikian, kemampuan perusahaan untuk membawa Atlas dari tahap pengujian terbatas menuju peluncuran publik masih menjadi pertanyaan. Pendanaan tambahan mungkin diperlukan untuk memperluas platform sekaligus menyelesaikan pengembangan fitur notebook.

 

Tantangan Komputasi Kuantum Bukan Hanya Kecepatan

Komputasi kuantum masih menghadapi tantangan mendasar. Meningkatkan kemampuan prosesor saja tidak cukup jika masyarakat dan perusahaan belum menemukan aplikasi yang benar-benar berguna.

Ketika tidak ada kebutuhan praktis, hanya sedikit orang di luar laboratorium yang tertarik menggunakan komputer kuantum. Akibatnya, semakin sedikit pula pihak yang mengeksplorasi teknologi tersebut untuk menemukan kemungkinan penerapan baru.

Siklus ini membuat pengembangan aplikasi menjadi terbatas, meskipun perangkat keras terus mengalami kemajuan.

Metode pembelajaran yang terlalu berfokus pada teori juga belum tentu membantu menjangkau pengguna dari bidang lain. Tutorial yang menunjukkan cara memfaktorkan bilangan kecil memang bermanfaat untuk memahami algoritma kuantum, tetapi tidak selalu memberikan hasil yang relevan bagi pekerja kreatif.

Sebagai gambaran, memfaktorkan angka 21 menggunakan Qiskit memerlukan serangkaian langkah teknis, padahal komputer biasa atau manusia dapat menemukan faktor bilangan tersebut dengan mudah.

Selain itu, komputer kuantum yang tersedia saat ini masih memiliki keterbatasan jumlah qubit dan rentan terhadap kesalahan. Karena itu, manfaat praktisnya perlu dinilai berdasarkan kemampuan perangkat keras yang benar-benar tersedia.

Moth tidak mengklaim bahwa Atlas memberikan keunggulan komputasi kuantum atas komputer konvensional untuk tugas yang sama. Platform tersebut justru menawarkan cara baru untuk bereksperimen menggunakan perangkat keras kuantum yang ada saat ini.

Bagi sebagian pengamat, pendekatan tersebut mungkin terlihat seperti permainan atau demonstrasi teknologi. Namun, bagi Moth, pengalaman langsung merupakan cara untuk membangun ketertarikan masyarakat sebelum memperkenalkan konsep yang lebih rumit.

Perusahaan berharap sebagian pengguna akan mulai bertanya bagaimana hasil tertentu dihasilkan, mempelajari cara kerja teknologi, kemudian mengembangkan perangkat mereka sendiri.

Strategi tersebut memiliki kemiripan dengan perkembangan kecerdasan buatan generatif. Demonstrasi kemampuan DALL-E dalam menghasilkan gambar pada 2021 membantu memperkenalkan teknologi tersebut kepada masyarakat, sebelum ChatGPT membawa AI generatif ke khalayak yang jauh lebih luas pada 2022.

Moth ingin menerapkan pendekatan serupa pada komputasi kuantum dengan menghadirkan pengalaman visual yang mudah dipahami dan dekat dengan kebutuhan kreator.

 

Atlas Berpotensi Membuka Peluang Baru bagi Industri Kreatif

Moth berencana meluncurkan Atlas untuk publik pada akhir tahun ini. Dukungan notebook juga ditargetkan hadir dalam periode yang sama, meskipun jadwal pastinya belum ditetapkan. Peluncuran tersebut akan menjadi tahap penting untuk menguji apakah Atlas dapat berkembang dari demonstrasi teknologi menjadi platform yang digunakan secara lebih luas.

Jika berhasil, teknologi ini berpotensi membuka peluang baru dalam pengolahan gambar, efek visual, dan pengembangan gim. Komputasi kuantum juga dapat dieksplorasi untuk menghasilkan pendekatan berbeda dalam pembuatan watermark atau penanda digital.

Pada akhirnya, nilai utama Atlas terletak pada upayanya mengurangi hambatan untuk mencoba komputer kuantum. Pengguna tidak harus menjadi fisikawan atau programmer untuk mulai bereksperimen. Dengan menggabungkan perangkat lunak yang familier, akses ke prosesor kuantum sungguhan, dan kemungkinan berbagi proyek, Moth ingin memperluas ekosistem komputasi kuantum ke luar laboratorium penelitian.

Bagikan artikel ini

Komentar ()

Video Terkait